Visitor

Kamis, 30 Maret 2017

KARYA TULIS ILMIAH ANALIS KESEHATAN GAMBARAN HASIL KADAR ELEKTROLIT (KALIUM) PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Diabetes mellitus adalah sindrom kelainan metabolisme karbohidrat yang ditandai hiperglikemia kronik akibat defek pada sekresi insulin dan atau inadekuatnya fungsi insulin. (Tjekyan, 2007).
Kini DM menjadi salah satu masalah kesehatan yang besar. Menurut survei yang di lakukan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia pada tahun 2000 terdapat 8,4 juta orang, jumlah tersebut menepati urutan ke 4 terbesar di dunia, sedangkan urutan di atasnya adalah India (31,7 juta), Cina (20,8 juta), dan Amerika Serikat (17,7 juta). Diperkirakan  jumlah penderita Diabetes Mellitus akan meningkat pada tahun 2030 yaitu india (79,4 juta),  cina, Amerika Serikat (30,3 juta) dan Indonesia (21,3 juta). Jumlah penderita Diabetes Mellitus tahun 2000 di dunia termasuk indonesia tercatat 175,4 juta orang, dan diperkirakan tahun 2010 menjadi 279,3 juta orang, tahun 2020 menjadi 300 juta orang dan tahun 2030 menjadi 366 juta orang. (Dr. Hasdianah H.R, 2012).
Di Indonesia berdasarkan penelitian epidemiologis didapatkan prevalensi Diabetes Mellitus sebesar 1,5 – 2,3% pada penduduk yang usia lebih 15 tahun, bahkan di daerah urban prevalensi DM sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2%. Prevalensi tersebut meningkat 2-3 kali dibandingkan dengan negara maju, sehingga Diabetes Mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, dan dapat terjadi pada lansia. (Dr. Hasdianah H.R, 2012).
Peningkatan kejadian DM juga tercermin di tingkat provinsi khususnya provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan surveilans rutin penyakit tidak menular berbasis rumah sakit di Sulawesi Selatan tahun 2008, DM termasuk dalam urutan keempat penyakit tidak menular (PTM) terbanyak yaitu sebesar 6,65% dan urutan kelima terbesar PTM penyebab kematian yaitu sebesar 6,28%. Bahkan pada tahun 2010, DM menjadi penyebab kematian tertinggi PTM di Sulawesi Selatan yaitu sebesar 41,56%. Peningkatan kasus diabetes melitus juga terjadi di tingkat kabupaten/kota, khususnya di Kota Makassar. Diabetes mellitus menempati peringkat kelima dari 10 penyebab utama kematian di Kota Makassar tahun 2007 dengan jumlah sebanyak 65 kasus. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Makassar, angka kejadian penyakit diabetes mellitus pada tahun 2012 sejak bulan Januari hingga Desember sebanyak 7000 kasus (Sari dkk, 2013).
Data penderita DM di Rumah Sakit Tk II Pelamonia Makassar tahun 2012 tentang jumlah sebanyak 1.375 orang, tahun 2013 tentang jumlah sebanyak 1.568 orang, tahun 2014 tentang jumlah sebanyak 1.792 orang (Rekam Medik Rumah Sakit Tk II Pelamonia Makassar, 2015). Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan jumlah penderita DM dari tahun ke tahun. (Pabateh dkk, 2015)
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit kronis yang disebabkan oleh faktor keturunan, karena didapat atau keduanya bersamaan, yang mengakibatkan berkurangnya produksi insulin oleh pankreas atau insulin yang dihasilkan tidak efektif. Insulin sendiri dibutuhkan untuk mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan menyalurkannya ke dalam sel-sel tubuh yang membutuhkan. Karena adanya gangguan produksi dan atau efektifitas insulin kurang, maka pada penderita diabetes terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia). (Nurpalah & Aryanti, 2014).
Diabetes Mellitus sering disebut dengan the great imitator, yaitu penyakit yang dapat menyerang semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai keluhan. Penyakit ini timbul secara perlahan-lahan, sehingga seseorang tidak menyadari adanya berbagai perubahan dalam dirinya. Perubahan seperti minum menjadi lebih banyak, buang air kecil menjadi lebih sering, dan berat badan yang terus menurun, berlangsung cukup lama dan biasanya cenderung tidak diperhatikan, hingga seseorang pergi ke petugas kesehatan dan memeriksa kadar glukosa darahnya. Atau biasanya pasien DM datang ke Rumah Sakit atau pelayanan kesehatan lainnya setelah muncul komplikasi. Komplikasi DM bersifat menahun (kronis), terutama pada struktur dan fungsi pembuluh darah yang disebut makroangiopati dan mikroangiopati. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, akan timbul komplikasi lain yang cukup fatal, seperti penyakit jantung, ginjal, kebutaan, aterosklerosis, bahkan sebagian tubuh bisa diamputasi. Dampak lain yang jarang terpantau adalah gangguan elektrolit akibat dari buang air kecil yang berlebihan karena adanya diuresis osmosis. (Upoyo dkk, 2015).
Hiperkalemia (kadar kalium serum >5,0 mEq/L) terjadi karena peningkatan masukan kalium, penurunan ekskresi urin terhadap kalium, atau gerakan kalium keluar dari sel-sel. Perubahan pada kadar kalium serum menunjukan perubahan pada kalium CES (cairan Ekstraseluler), tidak selalu pada kadar tubuh total. Pada ketoasidosis diabetik sebagai contoh kalium dalam jumlah besar dapat hilang pada urin karena diuresis osmosis akibat glukosa. (Nurpala & Aryanti, 2014)
Dalam diabetes kalium sangat berguna dalam meningkatkan kepekaan insulin, sehingga proses pengurasan gula dalam darah berlangsung efektif, kalium juga menurunkan resiko hipertensi serta serangan jantung pada penderita diabetes. Bagi penderita diabetes dengan insulin, asupan kalium jauh lebih penting karena insulin memerlukan banyak kalium. (Indriani, 2012)
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka sebagai peneliti bermaksud untuk meneliti “Gambaran Hasil Kadar Elektrolit (Kalium) Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “Bagaimanakah Gambaran Hasil Kadar Elektrolit (Kalium) pada penderita Diabetes Mellitus Tipe II” ?

C.    Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran hasil kadar elektrolit (kalium) pada penderita diabetes mellitus tipe II.
D.    Manfaat Penelitian
1.      Akademik
Sebagai sumbangsih ilmiah bagi almamater program studi D-III Analis Kesehatan STIKes Mega Rezky Makassar.
2.      Mahasiswa
Memberikan informasi tambahan dalam peningkatan mutu terhadap pemeriksaan Kimia Klinik khususnya pemeriksaan Elektrolit (Kalium).
3.      Masyarakat
Untuk memberikan pengetahuan pada masyarakat khususnya pada penderita Diabetes Mellitus agar menjalankan pola hidup sehat.
4.      Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan utamanya dalam bidang laboratorium.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tinjauan Umum Tentang Diabetes Mellitus
1.      Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan kurangnya hormon insulin. Kelainan ini bersifat kronis yang menganggu metabolisme karbohidrat, protien maupun lemak. (Upoyo dkk, 2015). Diabetes mellitus tipe II adalah jenis DM yang paling banyak ditemukan di masyarakat. (Trisnawati & Setyorogo, 2013).
Berikut pengertian diabetes mellitus  dari berbagai pendapat yaitu :
1)      Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang terjadi ketika pankreas tidak cukup dalam memproduksi insulin atau ketika tubuh tidak efisien menggunakan insulin itu sendiri. (Saptarini, 2012)
2)      Menurut International Diabetes Federation (IDF), DM adalah penyakit kronis yang digambarkan sebagai keadaan kadar glukosa darah yang meningkat (hiperglikemia) yang berhubungan dengan kematian. (Tarigan, 2012)
3)      Diabetes mellitus adalah gangguan kronis yang ditandai dengan metabolisme karbohidrat dan lemak yang diakibatkan oleh kekurangan insulin atau secara relatif kekurangan insulin (Tucker, 2011)
4)      World Health Organisation (WHO) mendefinisikan diabetes melitus (DM) sebagai penyakit yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. (Awad dkk, 2013)
Berdasarkan pengertian diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang ditandai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut.
2.      Faktor Resiko Diabetes Mellitus
Tingginya prevalensi DM, yang sebagian besar adalah tergolong dalam DM tipe II disebabkan oleh interaksi antara faktor-faktor kerentanan genetis dan paparan terhadap lingkungan. Faktor lingkungan yang diperkirakan dapat meningkatkan faktor resiko DM tipe II adalah perubahan gaya hidup seseorang, diantaranya adalah kebiasaan makan yang tidak seimbang akan menyebabkan obesitas. Selain pola makan yang tidak seimbang, kurangnya aktifitas fisik juga merupakan faktor resiko dalam memicu terjadinya DM (Tjekyan, 2007; Awad dkk, 2013)
Resistensi insulin terikat obesitas adalah resiko utama untuk DM. Kaitan antara obesitas dan resistensi insulin sepertinya adalah sebab-akibat karena studi pada manusia dan hewan mengindikasikan bahwa peningkatan atau penurunan berat badan berkolerasi erat dengan sensitivitas insulin. Resistensi insulin terikat obesitas adalah kelainan yang kompleks yang melibatkan berbagai jalur mekanisme. Pada penderita obesitas akan berkembang resistensi terhadap aksi seluler insulin yang ditandai oleh berkurangnya kemampuan insulin untuk mendukung pengambilan glukosa pada jaringan lemak dan otot. (Dewi, 2007)
Kelompok umur yang paling banyak menderita DM adalah kelompok umur 45-52 tahun. Peningkatan resiko diabetes seiring dengan  umur, khususnya pada usia lebih dari 40 tahun, disebabkan karena pada usia tersebut mulai terjadi peningkatan intolenransi glukosa. Adanya proses penuaan menyebabkan berkurangnya kemampuan sel β pankreas dalam memproduksi insulin. Selain itu pada individu yang berusia lebih tua terdapat penurunan aktivitas mitokondria di sel-sel otot sebesar 35%. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar lemak di otot sebesar 30% dan memicu terjadinya resistensi insulin. (Trisnawati, 2013)
3.      Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang sesuai dengan anjuran klasifikasi DM American Diabetes Assocation. Klasifikasi etiologi diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
1)      Diabetes Mellitus Tipe I
Nama lain dari diabetes tipe I adalah insulin dependent diabetes, yaitu diabetes yang bergantung pada insulin. Diabetes tipe I adalah penyakit diabetes yang terjadi karena adanya gangguan pada pankreas, menyebabkan pankreas tidak mampu memproduksi insulin dengan optimal. Kita tahu bahwa pankreas berperan penting dalam keseimbangan kadar gula darah. Pada diabetes tipe I, pankreas memproduksi insulin dengan kadar yang sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan untuk mengatur kadar gula darah dengan tepat. Pada perkembangan selanjutnya, pankreas bahkan menjadi tidak mampu lagi memproduksi insulin. Akibatnya, penderita diabetes tipe I harus mendapatkan injeksi insulin dari luar, ini biasa disebut dengan insulin dependent. (Sutanto, 2013).
Kurangnya atau tidak adanya produksi insulin oleh pankreas, menyebabkan glukosa dalam pembuluh darah tidak dapat diserap sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai bahan bakar. Akibat dari itu, glukosa yang tidak bisa dipakai oleh sel-sel tubuh akan menumpuk dalam aliran darah. Pada gilirannya, hal ini kemudian menyebabkan rasa kelaparan yang tinggi pada penderita karena sel-sel tidak mendapat energi dari glukosa. Inilah ironi pada penyakit diabetes tipe I, glukosa melimpah dalam pembuluh darah tapi sel-sel tubuh tidak bisa meggunakannya sebagai energi. Selain itu, tinggnya tingkat glukosa dalam darah menyebabkan penderita sering buang air kecil, yang pada gilirannya juga menyebabkan rasa haus yang berlebihan. (Sutanto, 2013)
2)      Diabetes Mellitus Tipe II
Diabetes mellitus tipe II atau disebut juga dengan noninsulin dependent diabetes, diabetes yang tidak bergantung pada insulin. Ini merupakan perbedaan diabetes tipe I dengan diabetes tipe II. Pada diabetes tipe I penderita memiliki ketergantungan pada injeksi insulin, hal ini dikarenakan organ pankreas penderita tidak mampu memproduksi insulin dengan jumlah yang cukup bahkan tidak memproduksi sama sekali. Tapi pada diabetes tipe II, organ pankreas penderita mampu memproduksi insulin dengan jumlah yang cukup namun sel-sel tubuh tidak merespon insulin yang ada dengan benar. (Sutanto, 2013)
Jika didefenisikan, diabetes tipe II adalah penyakit diabetes yang disebabkan karena sel-sel tubuh tidak menggunakan insulin sebagai sumber energi atau sel-sel tubuh tidak merespon insulin yang dilepaskan pankreas, inilah yang disebut dengan resistensi insulin. (Sutanto, 2013)
Resistensi insulin ini menyebabkan glukosa yang tidak dimanfaatkan sel akan tetap berada di dalam darah, semakin lama semakin menumpuk. Pada saat yang sama, terjadinya resistensi insulin membuat pankreas memproduksi insulin yang berlebihan, lama kelamaan, dalam kondisi yang tidak terkontrol pankreas akan mengurangi jumlah produksi insulin. Orang yang kelebihan berat badan memiliki resiko lebih tinggi mengalami resistensi insulin, karena lemak menggangu kemampuan sel-sel tubuh untuk menggunakan insulin. Tapi tidak menutup kemungkinan orang orang yang berbadan kurus juga bisa terserang diabetes tipe ini. (Sutanto, 2013)
Secara umum ada dua penyebab utama terjadinya penyakit diabetes tipe II ini, yaitu faktor genetik (keturunan) dan hiperglikemia (tingginya kadar gula darah). Faktor keturunan sangat berpengaruh dalam diabetes tipe II. Jika orang tua menderita diabetes, maka kemungkinan besar anaknya juga menderita diabetes. Diabetes karena keturunan ini akan aktif dengan sendirinya manakala dipicu dengan rendahnya tingkat aktifitas sehari-hari, kurang olah raga, pola makan yang salah, gaya hidup yang kurang sehat dan kelebihan berat badan (terutama disekitar pinggang). (Sutanto, 2013)
Saat ini, diabetes tipe II merupakan jenis diabetes yang paling banyak diderita dan meyerang orang dari segala usia. Jumlah penderitanya jauh lebih banyak diabndingkan dengan diabetes tipe I. Pada umumnya, diabetes tipe II terjadi secara bertahap. Perkembangan gejala terjadi bertahap selama beberapa minggu atau bulan, dan tidak cukup jelas pada awalnya, sehingga banyak orang yang tidak menyadari dirinya telah mengalami penyakit diabetes. Oleh karena itu, mencermati gejala-gejala dari diabetes tipe ini menjadi sangat penting. Deteksi dini penyakit diabetes bermanfaat untuk menghindari akibat-akibat yang lebih parah. (Sutanto, 2013)
3)      Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional adalah diabetes yang disebabkan karena kondisi kehamilan. Pada diabetes gestasional, pankreas penderita tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup untuk mengontrol gula darah pada tingkat yang aman bagi si ibu dan janin. (Sutanto, 2013)
Diabetes tipe ini menjangkit wanita yang tengah hamil. Lebih sering menjangkit di bulan ke enam masa kehamilan. Resiko neonatal yang terjadi keanehan sejak lahir seperti berhubungan dengan jantung, sistem nerves yang pusat, dan menjadi sebab bentuk cacat otot atau jika atau jika diabetes gestasional tidak bisa dikendalikan bayi yang lahir tidak normal yakni besar atau disebutnya makrosomia yaitu berat badan bayi diatas 4 kg. Untuk mengendalikannya harus mendapatkan pengawasan semasa hamil, sekitar 20-25% dari wanita penderita diabetes gestasional dapat bertahan hidup. (Novitasari, 2012)
4.      Patofisiologi Diabetes Mellitus
Menurut Brunner & Suddart (2002) patofisiologi terjadinya penyakit diabetes mellitus tergantung kepada tipe diabetes yaitu :
1)      Diabetes Tipe I
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring  keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmosis. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi).
2)      Diabetes Tipe II
Patofisiologi pada non insulin dependent diabetes mellitus disebabkan karena dua hal yaitu (1) penuruna respon jaringan perifer terhadap insulin, peristiwa tersebut dinamakan resistensi insulin, dan (2) penurunan kemampuan sel β pankreas untuk mensekresi insulin sebagai respon terhadap beban glukosa. Konsentrasi insulin yang tinggi mengakibatkan reseptor insulin berupaya melakukan pengaturan sendiri (self regulation) dengan menurunkan jumlah reseptor atau down regulation. Hal ini membawa dampak pada penurunan respon reseptornya dan lebih lanjut mengakibatkan terjadinya resistensi insulin.
Resistensi insulin menyebabkan ketidakmampuan insulin menurunkan kadar gula darah. Akibatnya pankreas harus mensekresi insulin lebih banyak untuk mengatasi kadar gula darah. Pada tahap awal ini, kemungkinan individu tersebut akan mengalami gangguan toleransi glukosa. Kondisi resistensi insulin akan berlanjut dan semakin bertambah berat, sementara pankreas tidak mampu lagi terus menerus meningkatkan kemampuan sekresi insulin yang cukup untuk mengontrol gula darah. Pada tahap ini sel β pankreas mengalami adaptasi diri sehingga responnya untuk mensekresi insulin menjadi kurang sensitif, dan pada akhirnya membawa akibat pada defisiensi insulin. Peningkatan produksi glukosa hati, penurunan pemakaian glukosa oleh otot dan lemak berperan atas terjadinya hiperglikemia kronik saat puasa dan setelah makan. Akhirnya sekresi insulin oleh sel β pankreas akan menurun dan kenaikan kadar gula darah semakin bertambah berat.
3)      Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormon-hormon plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal. (Brunner & Suddarth, 2012)
5.      Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus
Gejala klinis DM adalah rasa haus yang berlebihan (polidipsi), sering kencing (poliuri) terutama pada malam hari, dan sering merasa lapar (polifagi). DM juga dapat tidak bergejala (asimtomatis). Dan gejala DM yang lain adalah berat badan yang turun dengan cepat, keluhan lemah, kesemutan pada tangan dan kaki, gatal-gatal, penglihatan jadi kabur, impotensi, luka sulit sembuh, keputihan, penyakit kulit akibat jamur dibawah lipatan kulit, perubahan tingkah laku, menurunnya status kongnitif atau kemampuan fungsional (antara lain: delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh, dan inkontinensia urin), dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi besar dengan berat badan > 4 kg. (Kemenkes, 2013; Kurniawan, 2010)
6.      Diagnosis Diabetes Mellitus
Menurut pedoman American Diabetes Association (ADA) 2011 dan konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2011 untuk pencegahan dan pengelolaan DM tipe II, kriteria diagnostik DM dapat ditegakan bila : (1) glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl bila terdapat keluhan klasik DM penyerta, seperti banyak kencing (poliuri), banyak minum (polidipsi), banyak makan (polifagi), dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, (2) glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl dengan gejala klasik penyerta, (3) glukosa 2 jam pasca pembebanan ≥200 mg/dl (Kemenkes, 2013). Dipihak lain seseorang dengan kadar glukosa darah diatas normal, tetapi belum memenuhi kriteria diabetes dianggap mengalami keadaan pradiabetes yang berisiko berkembang menjadi DM tipe II.
Keadaan pradiabetes tersebut meliputi glukosa darah puasa (GDP) terganggu dan toleransi glukosa terganggu (TGT). Menurut ADA 2011, kriteria GDP terganggu adalah bila kadar glukosa darah puasa seseorang berada dalam rentang 100-125 mg/dl, sedangkan kriteria TGT ditegakkan bila hasil glukosa darah 2 jam pasca pembebanan berada dalam kisaran 140-199 mg/dl. Kadar gula darah puasa dikumpulkan setelah responden menjalani puasa makan dan minum selama 10-12 jam sebelum pemeriksaan darah, sedangkan nilai TGT diambil dari hasil glukosa darah 2 jam pasca pembebanan 75 gram glukosa anhidrat (kemenkes, 2013)
Studi epidemiologi menunjukan bahwa prevalensi DM maupun TGT meningkat seiring dengan pertambahan usia, menetap sebelum akhirnya menurun. Dari data WHO didapatkan bahwa setelah mencapai usia 30 tahun, kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg%/tahun pada saat puasa dan akan naik sebesar 5,6-13 mg%/tahun pada 2 jam setelah makan (Kurniawan, 2010)
7.      Penanganan Diabetes Mellitus
Telah disepakati bahwa DM tidak dapat disembuhkan, tetapi kadar gula darah dapat dikendalikan. Penderita DM sebaiknya melaksanakan 4 pilar pengelolaan DM yaitu edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani, dan intervesi farmakologis. Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronis, diperlukan pengendalian DM yang baik yang mempunyai sasaran dengan kriteria nilai baik, diantara gula darah puasa 80-100 mg/dl, gula darah 2 jam sesudah makan 80-144 mg/dl, HbA1C <6,5%, kolesterol total <200 mg/dl, trigliserida <150 mg/dl, indeks masa tubuh (IMT) 18,5-22,9 kg/m2 dan tekanan darah <130/80 mmHg. (Mihardja, 2009; Utomo dkk, 2012)
WHO memastikan peningkatan penderita DM tipe II paling banyak akan terjadi di negara-negara berkembang termasuk indonesia. Sebagian peningkatan jumlah penderita DM tipe II karena kurangnya pengetahuna tentang pengelolaan DM. Penderita DM yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang DM, kemudian selanjutnya mengubah perilakunya, akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya sehingga dapat hidup lebih lama. Inilah yang menyebaban edukasi menjadi salah satu komponen penanganan DM. (Witasari dkk, 2009)
Latihan jasmani secara teratur dapat menurunkan kadar gula darah. Latihan jas­mani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sen­sitivitas, sehingga akan memperbaiki ken­dali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepe­da santai, jogging, berenang, dan senam diabetes. (Utomo, 2012)
8.      Komplikasi Diabetes Mellitus
Komplikasi yang sering terjadi apabila DM tidak terkendali dan tidak ditangani dengan baik adalah timbulnya berbagai penyakit penyerta pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah dan sistem saraf. Berbagai penyakit yang dapat timbul akibat DM yang tidak terkontrol antara lain : neuropati, hipertensi, jantung koroner, retinopati, nefropati dan gangren. Untuk itu perlu kerjasama yang baik antara pasien, keluarga, masyarakat dan juga petugas kesehatan dalam menanganai dan mengelola penderita DM. (Indriyani dkk, 2007; Mihardja, 2009)
9.      Pencegahan Diabetes mellitus
Tingakat pengetahuan yang rendah akan dapat mempengaruhi pola makan yang salah sehingga menyebabkan obesitas, yang akhirnya mengakibatkan kenaikan kadar glukosa darah. Salah satu upaya pencegahan DM adalah dengan perbaikan pola makan melalui pemilihan makanan yang tepat. Semakin rendah penyerapan karbohidrat, semakin rendah kadar glukosa darah. Kandungan serat yang tinggi dalam makanan akan mempunyai indeks glikemik yang rendah sehingga dapat memperpanjang pengosongan lambung yang dapat menurunkan sekresi insulin dan kadar kolesterol total dalam tubuh. (Witasari dkk, 2009).

B.     Tinjauan Umum Tentang Elektrolit
1.      Pengertian Elektrolit
Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi partikel yang bermuatan (ion) positif atau negatif. Ion bermuatan positif disebut kation dan ion bermuatan negatif disebut anion. Keseimbangan keduanya disebut sebagai elektronetralitas. (Yaswir & ferawati, 2012).
Garam yang terurai didalam air menjadi satu atau lebih partikel-partikel yang bermuatan, disebut sebagai ion atau elektrolit. Elektrolit tubuh mencakup Natrium (Na+), Kalium (K+), Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+), Klorida (Cl-), Bikarbonat (HCO3-), Fosfat (PO3-), dan Sulfat (SO4-). (Pariury, 2013).
Elektrolit sebagai komponen yang ada dalam tubuh kita harus dijaga keseimbangannya. Hal ini dikarenakan fungsi dari elektrolit yang sangat penting dan mampu mempengaruhi keseimbangan cairan dan fungsi sel. (Pranata, 2013).


2.      Pembagian Elektrolit
Elektrolit di dalam tubuh manusia ada dua jenis, yaitu kation dan anion. Kation dan anion inilah yang mempengaruhi peran dalam menjaga keseimbangan elektrolit. Kation dan anion mempengaruhi tekanan osmotik cairan ekstraseluler dan intraseluler dan langsung berhubungan dengan fungsi seluler. Berikut adalah penjelasan seputar kation dan anion.
1)      Kation
Kation merupakan ion yang bermuatan positif. Kation utama dalam tubuh manusia adalah natrium (Na+), kalium (K+), kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+). Kation tersebut tersebar dalam cairan ekstrasel dan intrasel. Kation tersebut bekerja pada transmisi neurokimia dan transmisi neuromuskuler yang nantinya akan mempengaruhi fungsi otot, irama dan kontraktilitas jantung, alam perasaan dan perilaku, serta fungsi saluran pencernaan.
2)      Anion
Anion merupakan ion yang bermuatan negatif. Anion utama dalam tubuh antara lain klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), dan fosfat (PO3-). Anion tersebut tersebar dalam ruang intrasel dan ekstrasel. Dikarenakan kation berkaitan erat dengan anion, maka anion juga mempengaruhi keseimbangan dan fungsi cairan dan elektrolit, dan asam basa. (Pranata, 2013)

Elektrolit dalam tubuh merupakan substansi yang membawa muatan positif (kation) atau yang membawa muatan negatif (anion). selain itu elektrolit juga merupakan suatu senyawa kimia yang dapat diuraikan menjadi ion dalam air. Satuan untuk elekrolit biasanya dirumuskan dengan mEq/L. Elektrolit dalam tubuh manusia sangat beragam jenisnya. Setiap elektrolit tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam menjaga homoestasis tubuh manusia. (Pranata, 2013).

C.    Tinjauan Umum Tentang Kalium
1.      Pengertian Kalium
Kalium (K+) merupakan kation yang sangat penting untuk banyak fungsi tubuh manusia. Elektrolit ini  jumlahnya lebih banyak berada pada intrasel (intraselluler fluid) dari pada di cairan ekstraseluler (pada intravaskuler fluid). Kadar normal kalium dalam serum adalah 3,6-5,5 mEq/L. Jumlah asupan kalium tiap hari adalah 40-60 mEq/L. Kalium sekitar 80-90% diekskresikan ke dalam urin dan 8% ke dalam feses. Sumber kalium dapat didapatkan dari buah-buahan, sari buah, sayur-sayuran, atau suplemen kalium. Pisang dan buah kering kaya akan kandungan kalium. (Pranata, 2013).
Jumlah kalium dalam tubuh merupakan cermin keseimbangan kalium yang masuk dan keluar. Pemasukan kalium melalui saluran cerna tergantung dari jumlah dan jenis makanan. Orang dewasa pada keadaan normal mengkonsumsi 60-100 mEq kalium perhari. (Yaswir & ferawati, 2012)
2.      Fungsi Kalium
Fungsi dari ion kalium antara lain:
1)      Transmisi dan konduksi implus saraf
2)      Kontraksi otot rangka, jantung dan otot polos
3)      Untuk kerja enzim dalam proses glikolisis (proses merubah karbohidrat menjadi energi) dan proses merubah asam amino menjadi protein.
4)      Meningkatkan penyimpanan glikogen di hepar
5)      Mengatur osmolalitas cairan seluler. (Pranata, 2013)
3.      Gangguan Keseimbangan Kalium
Bila kadar kalium kurang dari 3,6 mEq/L disebut sebagai hipokalemia dan kadar kalium lebih dari 5,5 mEq/L disebut sebagai hiperkalemia. Kekurangan ion kalium dapat menyebabkan frekuensi denyut jantung melambat. Peningkatan kalium plasma 4-5 mEq/L dapat menyebabkan  aritmia jantung, konsentrasi yang lebih tinggi lagi dapat menimbulkan henti jantung.
1)      Penyebab hipokalemia
Penyebab hipokalemia dapat dibagi sebagai berikut :
a.       Asupan kalium yang kurang
Orang tua yang hanya makan roti panggang dan teh, peminum alkohol yang berat sehingga jarang makan dan tidak makan dengan baik, atau pada pasien sakit berat yang tidak dapat makan dan minum dengan baik melalui mulut atau disertai oleh masalah lain misalnya pada pemberian diuretik atau pemberian diet rendah kalori pada program menurunkan berat badan dapat menyebabkan hipokalemia.
b.      Pengeluaran kalium berlebihan
Banyak jalan yang bisa menyebabkan kalium keluar dari tubuh. Muntah, pemasangan selang nasogastrik, diare dan pemakaian obat pencahar merupakan faktor yang menyebabkan pengeluaran kalium berlebih. Banyak asumsi bahwa klien yang muntah berat akan mengeluarkan banyak kalium. Akan tetapi, sebenarnya kalium yang keluar dari saluran pencernaan atas tidak sebanyak yang kita perkirakan. Tetapi pengeluaran kalium banyak dari ginjal. Kondisi-kondisi tersebut memicu terjadinya alkalosis metabolik sehingga banyak bikarbonat yang difiltrasi di glomerulus. Bikarbonat ini mempunyai daya ikat yang kuat terhadap kalium di tubulus distal (duktus koligentes). Kondisi ini akan diperparah dengan adanya hiperaldosteron akibat dari hipovolemia (muntah). Kondisi tersebut akan memicu peningkatan ekskresi kalium melalui urin dan terjadilah hipokalemia. Pada kejadian diare, pengeluaran kalium karena dipicu oleh asidosis metabolik (keluar bersama bikarbonat).
Pengeluaran kalium lewat ginjal juga disebabkan oleh diuretik, kelebihan hormon mineralokortikoid primer (hiperaldosteronisme primer).
c.       Kalium masuk dalam sel
Secara anatomis kalium memang merupakan  ion intrasel. Akan tetapi, kadar dalam plsama ada juga walaupun sedikit. Jika kadar yang minimal ini mengalami penurunan tentunya akan mengakibatkan dampak. Kalium yang masuk kedalam sel yang melebihi batas inilah sebagai penyebabnya. Hal itu diakibatkan oleh alkalosis ekstrasel, pemberian insulin, peningkatan aktifitas beta-andrenergik, paralisis periodik hipokalemik, dan hiponatremia.
Kondisi hipokalemia ini dipicu oleh adanya kerusakan sel yang dikarenakan trauma, cedera, pembedahan dan syok. Sehingga, kalium di dalam sel (intraselluler) akan keluar dan masuk ke cairan intravaskuler yang pada akhirnya akan di ekskresikan oleh ginjal. Kondisi ketidakseimbangan ini akan memacu proses hemostatis dengan cara perpindahan kalium dari plasma masuk ke dalam sel. Tujuannya adalah untuk memulihkan keseimbangan kalium seluler. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya hipokalemi. (Pranata, 2013).
Gejala yang bisa dijumpai pada klien pada hipokalemia antara lain kelemahan otot, lelah, nyeri otot, denyut nadi lemah dan tidak teratur, pernapasan dangkal, hipotensi, bisisng usus menurun. Jika dalam kondisi berat akan terjadi kelumpuhan (rabdomiolisis), aritmia, blok jantung, paresthesia, distensi usus. Tekanan darah juga akan mengalami peningkatan. Pada ginjal akan terjadi poliuri dan polidipsi. (Pranata, 2013).
2)      Penyebab hiperkalemia
Hiperkalemia dapat disebabkan oleh :
a.       Keluarnya kalium dari intrasel ke ekstrasel
Keluarnya kalium ini dipicu oleh asidosis metabolik, defisiensi insulin, katabolisme jaringan meningkat, pemakaian obat penghambat β-andrenergik, serta pseudo hiperkalemia akibat pengambilan sampel darah, sehingga sel darah merah mengalami lisis.
b.      Berkurangnya ekskresi kalium melalui ginjal
Kejadian ini terjadi karena hipoaldosteronisme, gagal ginjal, deplesi volume sirkulasi efektif, pemakaian siklosporin. Pada klien yang mengalami kondisi hiperkalemia, akan dijumpai tanda dan gejala antara lain mual, kejang perut, oliguria, takikardia, yang pada akhirnya jika tidak ditindaklanjuti menyebabkan bradikardia, lemas, dan baal (kesemutan pada anggota gerak tubuh). (Pranata, 2013).






D.    Analisis Jurnal
Tabel  II.1
 Analisis Jurnal
No
Judul
Peneliti
Tahun
Hasil Penelitian
1
Gambaran kadar Kalium Pada Penderita diabates mellitus tipe 2
Rianti Nurpala &  Dini Aryanti
2014
dari 20 sampel penderita DM di dapat 16 pasien (80%) Hipokalemia, 2 pasien (10%) Hiprkalemia, dan 2 Pasien (10%) kaliumnya normal
2
Gambaran elektrolit (Natrium – Kalium serum) penderita diabetes mellitus di RS Prof Dr Margono Soekarjo purwokerto
Arif Setyo dkk
2015
Hasilnya 46,94% responden mengalami hiponatremia, natrium normal 46,94%, dan hipernatremia 6,12% serta hipokalemia 26,53%, kalium normal 71,43%, hiperkalemia 2,04%
                
E.     Kerangka Pikir
Diabetes mellitus merupakan suatu penyaki kronis yang disebabkan oleh faktor keturunan, karena didapat atau keduanya bersamaan, yang mengakibatkan berkurangnya produksi insulin oleh pankreas atau insulin yang dihasilkan tidak efektif. Insulin sendiri dibutuhkan untuk mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan menyalurkannya kedalam sel-sel tubuh yang membutuhkan. (Nurpalah & Aryanti, 2014)
Kasus Diabetes yang sering dijumpai adalah DM Tipe II, yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin. Pada awalnya resistensi insulin belum menyebabkan diabetes klinis. Sel beta pankreas masih dapat mengkompensasi, sehingga terjadi hiperinsulinemi, kadar glukosa darah masih normal atau baru sedikit meningkat. Setelah terjadi kelelahan sel beta pankreas baru terjadi diabetes klinis, yang ditandai dengan adanya kadar glukosa darah yang meningkat, memenuhi kriteria diagnosis diabetes mellitus.

Dalam diabetes kalium sangat berguna dalam meningkatkan kepekaan insulin, sehingga proses pengurasan gula dalam darah berlangsung efektif, kalium juga menurunkan resiko hipertensi serta serangan jantung pada penderita diabetes. Bagi penderita diabetes dengan insulin, asupan kalium jauh lebih penting karena insulin memerlukan banyak kalium. Dari beberapa penelitian lain mengatakan bahwa kalium dapat meningkatkan kepekaan insulin, sehingga proses pengurasan gula dalam darah berlangsung efektif. Sehingga pada pasien DM Tipe II asupan atau suplementasi kalium menjadi sangat penting karena penggunaan insulin memboroskan kalium, sehingga pada pasien DM Tipe II asupan kalium sangat penting apalagi bila dilihat sumber kalium merupakan sayur dan buah.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penilitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan hasil pemeriksaan elektrolit kalium pada penderita diabetes mellitus tipe II.

B.     Waktu dan Lokasi Penelitian
1.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 13 juni - 22 juni 2016.
2.      Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar .

C.    Populasi, Sampel dan Kriteria Sampel
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien penderita diabetes mellitus tipe II di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar.
2.      Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian penderita diabetes mellitus tipe II berdasarkan hasil rekam medik di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar sebanyak 24 sampel.

3.      Kriteria Sampel
a.    Kriteria Inklusi
1)      Pasien yang telah didiagnosis menderita DM tipe II
2)      Usia lebih dari 40 tahun
3)      Lama menderita kurang dari 2 tahun
4)      Bersedia menjadi responden
5)      Pasien yang dirawat di RS TK II Pelamonia
b.    Kriteria Eksklusi
1)      Bukan penderita DM tipe II
2)      Tidak bersedia menjadi responden

D.    Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini secara purposive sampling. Purposive sampling merupakan salah satu metode non random yang mengambil semplingnya sesuai dengan kriteria yang ditentukan oleh peneliti.

E.     Perkiraan Besar Sampel
Penentuan besar sampel menggunakan rumus Arikunto dimana untuk menentukan besarnya sampel apabila subjek kurang dari100, lebih baik di ambil semua, jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 20-25%.
Dengan rumus :
n = 20% × N
    =  × 120
   = 24
F.     Variabel Penelitian
1.      Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah hasil pemeriksaan elektrolit kalium pada penderita diabetes mellitus tipe II.
2.      Variabel Terikat
Variabel terikat adalah penderita diabetes mellitus tipe II.

G.    Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh dengan cara melakukan studi pendahuluan yaitu wawancara petugas rekam medik laboratorium mengenai data sekunder pasien diabetes mellitus tipe II di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar serta melakukan pemeriksaan laboratorium.

H.    Tahapan Kegiatan Yang Dilakukan
1.      Prosedur pemeriksaan Elektrolit (Kalium)
Metode            : ISE (Ion Selective Electrode)
Prinsip Alat     : Kalium, natrium, klorida akan ditarik oleh elektroda  yang sensitif terhadap ion-ion tersebut. Kemudian digunakan elektroda reference untuk membandingkan naik turunnya potensial.
2.      Prosedur Kerja
a.    Pra Analitik
1.      Persiapan Pasien                       : Tidak ada persiapan khusus
2.      Persiapan Sampel                      : Darah vena
3.      Alat yang digunakan                : Rapidchem 744, tip, klinipet, cup
4.      Bahan yang digunakan             : Serum, reagen standar B

b.    Analitik
1.      Proses Pengambilan Darah
1)      Letakan lengan pasien lurus diatas meja dengan telapak tangan menghadap keatas.
2)      Kemudian lengan diikat dengan cukup erat dengan turniquet untuk membendung aliran darah, tetapi tidak boleh terlalu kencang sebab dapat merusak pembuluh darah
3)      Pasien disuruh mengepal dan membuka tangannya beberapa kali untuk mengisi darah.
4)      Dalam keadaan tangan pasien masih mengepal, ujung telunjuk kiri pemeriksa mencari lokasi pembuluh darah yang akan ditusuk.
5)      Bersihkan lokasi tersebut dengan kapas alkohol dan biarkan kering.
6)      Peganglah semprit dengan tangan kanan dan ujung telunjuk pada pangkal jarum.
7)      Tegangkan kulit dengan jari telunjuk dan ibu jari kiri diatas diatas pembuluh darah supaya pembuluh darah tidak bergerak, kemudian tusukkan jarum dengan sisi miring menghadap keatas dengan membentuk sudut ±250.
8)      Jarum dimasukkan sepanjang pembuluhn darah ±1-11/2 cm.
9)      Dengan tangan kiri, pengisap semprit ditarik perlahan-lahan sehingga darah masuk kedalam semprit.
10)  Sementara itu kepalan tangan dibuka dan ikatan pembendung direnggangkan atau dilepas sampai didapat sejumlah darah yang dikehendaki.
11)  Letakan kapas kering pada tempat tusukan, jarum ditarik kembali.
12)  Pasien disuruh menekan bekas tempat tusukan dengan kapas tersebut selama beberapa menit dengan keadaan tangan masih lurus
13)  Lepaskan jarum dari sempritnya dan alirkanlah (jangan disemprotkan) darah kedalam wadah atau tabung yang tersedia melalui dindingnya.

2.      Prosedur Kerja alat Rapidchem 744
1)      Pada menu layar “Analyze sample”
2)      Tekan tombol “Yes”
3)      “Lift sample to Analyze” angkat cover probe
4)      “Probe in sample” letakkan cup sample pada ujung probe
5)      Tekan tombol “Yes”
6)      “Remove sampel return sample” tutup cover probe
7)      Alat akan melakukan analyze
8)      Kemudian tunggu 5-10 menit sampai keluar hasil.
9)      Hasil akan keluar dalam bentuk prin out.

3.      Prosedur Maintenance Harian
1)      Pada menu layar  “Daily  Cleaner”
2)      Tekan tombol “Yes”
3)      “Lift sampler to use cleaner” angkat covet probe
4)      “Probe in cleaner” letakkan “daily cleaner” pada ujung probe
5)      Tekan tombol “yes”
6)      “Remove clear return sample” tutup cover probe”
7)      Alat akan melakukan cleaning
8)      Tunggu sampai selesai

4.      Prosedur Melakukan Kalibrasi
1)      Pada menu layar “calibrasi “
2)      Tekan tombol “yes”
3)      Alat akan melakukan kalibrasi tunggu sampai selesai

5.      Prosedur Melakukan Control
1)      Pada menu layar “Analyze QC”
2)      Tekan tombol “Yes”
3)      “Analyze QC level 1” tekan “Yes”
4)      “Life sampel to Analyze Control”, angkat cover probe
5)      “Probe in QC Level 1”, letakkan cup sampel pada ujung probe
6)      Tekan tombol “Yes”
7)      “Remove control return sample”, tutup cover probe
8)      Alat akan melakukan analyze
9)      Tunggu sampe selesai.

6.      Prosedur Menjalankan Sample
1)      Pada menu layar “Analyze QC”
2)      Tekan tombol “yes”
3)      “Lift sampler to analyze control” angkat cover probe
4)      “Probe in sample” letakkan cup sample pada ujung probe
5)      Tekan tombol “yes”
6)      “Remove sample return sample” tutup cover probe
7)      Alat akan melakukan analyze
8)      Tunggu sampai selesai

c.    Pasca Analitik
1)      Catat hasil pada buku arsip.
2)      Catat hasil di formulir hasil kemudian di tandatangani oleh penanggung jawab Laboratotium.
Sumberlaboratorium RS Tingkat II Pelamonia

I.     Interpretasi Hasil
1.      Interpretasi Nilai Normal
Kalium : 3,6 – 5,5 mEq/L

A.    Defenisi Operasional
1.      Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang ditandai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut.
2.      Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi partikel yang bermuatan (ion) positif atau negatif.
3.      Kalium (K+) merupakan kation yang sangat penting untuk banyak fungsi tubuh manusia.

B.     Etika Penelitian
Etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian ini berhubungan dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain :
1.      Informed Consent (Penjelasan dan Persetujuan)
Lembaran persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria peneliti. Bila subjek menolak maka peneliti tidak akan memaksa kehendak dan tetap menghormati hak-hak subjek.
2.      Anonimity (Tanpa Nama)
Dalam penelitian ini akan dijamin kerahasiaan data dari para responden dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya manuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3.      Confidentiality (Kerahasiaan)
Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-maslah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.


C.     Analisa Data
Data yang diperoleh disajiakan dalam bentuk deskripsi dengan menggunakan tabel yang dirumuskan sebagai berikut :
                 × 100%
 Keterangan :
 X    = Jumlah sampel dengan Hipokalemia/ hiprkalemia/ kalium normal
 n    = jumlah populasi
 π    = jumlah yang dicari














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil data pemeriksaan laboratorium dari 24 sampel penderita penyakit diabetes mellitus tipe II yang terdapat di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar yang dilaksanakan pada tanggal 13 juni - 22 juni 2016 di Laboratorium Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar, maka diperoleh hasil pemeriksaan yang tersedia pada tabel berikut :
Tabel IV.1
 Hasil Penelitian Kalium Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II
No
Kode Sampel
Hasil Kalium
Keterangan
Nilai Normal
1
A
 3,62 mEq/L
 Normal





3,6 – 5,5 mEq/L
2
B
  2,86 mEq/L 
 Hipokalemia
3
C
 4,40 mEq/L
 Normal
4
D
 3,64 mEq/L
 Normal
5
E
 2,81 mEq/L
 Hipokalemia
6
F
 5,78 mEq/L
 Hiperkalemia
7
G
 4,68 mEq/L
 Normal
8
H
 4,72 mEq/L
 Normal
9
I
 4,29 mEq/L
 Normal
10
J
 2,09 mEq/L
 Hipokalemia
11
K
 3,32 mEq/L
 Hipokalemia
12
L
 4,37 mEq/L
 Normal
13
M
  4,36 mEq/L 
 Normal
14
N
 3,18 mEq/L
 Hipokalemia
15
O
 4,02 mEq/L
 Normal
16
P
 4,01 mEq/L
 Normal
17
Q
 3,46 mEq/L
 Hipokalemia
18
R
 3,38 mEq/L
 Hipokalemia
19
S
 3,46 mEq/L
 Hipokalemia
20
T
 4,28 mEq/L
 Normal


21
U
4,04 mEq/L
Normal



22
V
2,68 mEq/L
Hipokalemia
23
W
5,73 mEq/L
Hiperkalemia
24
X
3,33 mEq/L
Hipokalemia
   Sumber : Data Sekunder
Dari hasil penelitian dilakukan pengolahan data yag diperoleh, dihitung presentasenya sebagai berikut :
 × 100%
% sampel Normal :
 × 100%
 
% sampel Hipokalemia :
 × 100%
 
% sampel Hiperkalemia :
 × 100%
 
Tabel VI.2
Hasil Persentasi Kadar Kalium
Kategori
Jumlah Data
Persentasi
Hiperkalemia
2
10%
Hipokalemia
10
40%
Normal
12
50%
                            Sumber : Data Sekunder
Setelah dilakukan penelitian selama 10 hari yakni pada tanggal 13 juni - 22 juni 2016 dan berdasarkan hasil penelitian yang dapat dilihat pada tabel IV.1, dan tabel IV.2 dapat disimpulkan yaitu dari 24 sampel yang diteliti di dapatkan hasil 12 pasien 50% kaliumnya normal dengan kode (A, C, D, G, H, I, L, M, O, P, T, U), 10 pasien 40% mengalami Hipokalemia dengan kode (B, E, J, K, N, Q, R, S, V, X), dan 2 pasien 10% Hiperkalemia dengan kode (F, W).
B.     Pembahasan
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang bersifat deskriptif bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil kadar elektrolit (kalium) pada penderita diabetes mellitus tipe II di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar.
Elektrolit berkaitan dengan keseimbangan cairan dalam sel kita, elektrolit terutama penting jika kita mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Zat kalium berpengaruh pada beberapa organ tubuh utama, termasuk jantung. Tingkat zat kalium dapat meningkat akibat diabetes, dan dapat tidak normal akibat muntah dan diare. Diabetes juga diketahui dapat menjadi penyebab meningatnya zat kalium. Penderita diabetes sering memerlukan insulin untuk mempertahankan kadar glukosa, ketika terjadi kekurangan insulin dalam tubuh sel-sel lemak dalam tubuh mengalami kerusakan. Hal ini dapat menyebabkan cairan dan kalium dalam sel untuk berpindah ke dalam aliran darah sehingga mengakibatkan terjadinya hiperkalemia. Pada pasien diabetes mellitus yang diperiksa kadar kaliumnya, 2 pasien diantaranya mengalami hiperkalemia sebanyak 10%, pasien tersebut mengalami DM yang disertai dengan adanya penyakit jantung, hipertensi, dan gangguan fungsi ginjal (terdapat peningkatan ureum dan kreatinin), dimana pada penyakit ginjal adanya Oliguria yang berlanjut menjadi Anuria dapat menyebabkan penurunan eksersi urin terhadap kalium, dan pada kardiovaskuler terjadi Disritma jantung, Bradikardia, sehingga menyebabkan Hiperkalemia. Sedangkan pada 10 pasien mengalami hipokalemia sebanyak 40%, pasien tersebut diantaranya ada yang disertai penyakit ginjal dan stroke, yang merupakan pasien dengan sakit berat yang tidak dapat makan atau minum melalui mulut sehingga menderita hipokalemia, dimana hipokalemia sedang dapat disebabkan oleh kurangnya asupan kalium dalam makanan sehari-hari atau dapat juga disertai kehilangan melalui saluran cerna atau ginjal sehingga menyebabkan Hipokalemia. sedangkan pada 12 pasien kaliumnya normal sebanyak 50%, pasien tersebut hanya disertai penyakit lambung, dan pemilihan makanan yang cukup baik seperti konsumsi buah-buahan yang merupakan sumber kalium, hal ini menyebabkan pasien memiliki kadar kaliumnya normal.
Adapun alat yang digunakan adalah rapidchem 744 dengan metode ISE (ion selective elektrode), metode ISE merupakan metode yang paling sering digunakan untuk pemeriksaan kimia darah khususnya pemeriksaan elektrolit. Metode ISE mempunyai akurasi yang baik, koefisien variasi kurang dari 1,5%, kalibrator dapat dipercaya dan mempunyai program pemantauan mutu yang baik. Pada alat rapidchem 744 terdapat tiga parameter pemeriksaan yaitu natrium, kalium, dan klorida. Elektrolit diperlukan untuk memelihara potensial elektrokimiawi membran sel yang akhirnya dapat mempengaruhi fungsi saraf otot serta aktivitas sel seperti sekresi kontraksi dan berbagai proses metabolik lain. Ada dua macam kelainan elektrolit yang terjadi, kadarnya terlalu tinggi (hiper) dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar konsentrasi kalium dalam plasma darah disebut hiperkalemia dan penurunan kadar kalium dalam plasma darah disebut hipokalemia. Hiperkalemia dapat mengakibatkan gangguan pada irama jantung dan apabila konsentrasinya lebih tinggi dapat menimbulkan henti jantung, sedangkan hipokalemia dapat menyebabkan frekuensi denyut jantung melambat.
Sampel dalam penelitian ini adalah penderita diabetes mellitus tipe II di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar. Sampel mula-mula di ambil dari pasien penderita diabetes mellitus tipe II kemudian dimasukan dalam wadah sampel (tabung reaksi) yang telah disiapkan dan dimasukkan kedalam ruangan kimia klinik untuk diperiksa, kemudian sampel dicentrifuge selama 5-10 menit dengan kecepatan 4500 rpm bertujuan untuk memisahkan antara serum dengan plasma, serum dipipet sebanyak 500 µl menggunakan klinipet yang telah disiapkan kemudian dimasukkan didalam cup, kemudian sampel dimasukkan kedalam alat elektrolit rapidchem 744 untuk diperiksa.
Dari hasil pemeriksaan elektrolit kalium pada penderita diabetes mellitus tipe II di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar didapatkan 12 pasien (50%) kaliumnya normal, 10 pasien (40%) mengalami hipokalemia dan 2 pasien (10%) hiperkalemia, hal ini menunjukan bahwa penderita diabetes mellitus tipe II lebih cenderung beresiko mengalami hipokalemia, dimana kondisi hipokalemia ini berdampak pada jantung. oleh karena itu diharapkan kepada penderita diabetes agar mengupayakan untuk menjaga kadar elektrolit dalam batas normal. Selain itu bagi institusi pelayanan kesehatan (Rumah Sakit) dapat memberikan terapi yang tepat untuk mencegah komplikasi akibat gangguan elektrolit serta mengupayakan menjaga kadar elektrolit khususnya kalium agar tetap dalam batas normal.
















BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui gambaran hasil kadar elektrolit kalium pada penderita diabetes mellitus tipe II, dari 24 sampel didapatkan 12 pasien (50%) mempunyai kadar kalium yang normal, 10 pasien (40%) mengalami hipokalemia dan 2 pasien (10%) hiperkalemia, hal ini menunjukan bahwa penderita diabetes mellitus tipe II lebih cenderung beresiko mengalami hipokalemia, dimana kondisi hipokalemia ini berdampak pada jantung.
B.     Saran
1.      Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian bukan hanya mengenai pemeriksaan elektrolit kalium, tapi juga jenis elektrolit yang lain pada penderita diabetes mellitus tipe II untuk mengetahui gambaran keseimbangan  cairan tubuh.
2.      Diharapkan pemeriksaan elektrolit khususnya kalium dianjurkan untuk dijadikan sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita diabetes mellitus tipe II untuk menghindari gangguan keseimbangan cairan tubuh.


DAFTAR PUSTAKA

Awad N, Langi Y.A, Pandelaki K, 2013. Gambaran Faktor Resiko Pasien            Diabetes Mellitus Tipe II di Poliklinik Endokrin Bagian/SMF FK-UNSRAT RSU Prof. Dr. R.D Kandou Manado Periode Mei 2011 – Oktober 2011. Jurnal e-Biomedik (eBM), Vol. 1 No. 1.
Brunner dan Suddarth, 2002. Keperawatan Medikal Bedah Edisi VIII. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Dewi M, 2007. Resistensi Insulin Terikat Obesitas : Mekanisme Endokrin dan Intrinsik Sel. Jurnal Gizi Dan Pangan. 2010; 2(2).
Hasdianah, 2012. Mengenal Diabetes Mellitus Pada Orang Dewasa dan Anak – Anak Dengan Solusi Herbal. Yogyakarta : Penerbit Nuha Medika.
Indriani C, 2012. Hubungan Kadar Kalium Dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Pasien DM Tipe II di RS Atma Jaya Jakarta. Skripsi.
Indriyani P, Supriyanto H, Santoso A, 2007. Pengaruh Latihan Fisik; Senam Aerobik Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Penderira DM Tipe 2 di Wilayah Puskesmas Bukateja Purbalingga. Media Ners. Vol. 1 No. 2.
Kemenkes, 2013. Riset Kesehatan Dasar : Riskesdas 2013. Jakarta : Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
Kurniawan I, 2010. Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada Usia Lanjut. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol. 60 No. 12.
Mihardja L, 2009. Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengendalian Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus di Perkotaan Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol. 59 No. 9.
Novitasari R, 2012. Diabetes Mellitus Dilengkapi Senam DM. Yogyakarta : Penerbit Nuha Medika.
Nurpalah N, Aryanti D, 2014. Gambaran Kadar Kalium Pada Penderita Diabetes Mellitus. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Vol. 12 No. 1.
Pabateh E, Evendil S, Ayumar A, 2015. Perbedaan Kadar Kreatinin Serum Dengan Kadar Gula Darah Yang Terkontrol dan Tidak Terkontrol Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Rumah Sakit TK II Pelamonia Makassar.
Pariury I, 2013. Gambaran Kadar Elektrolit (Na+, K+) Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik (GGK). Skripsi.
Pranata A.E, 2013. Manajemen Cairan Dan Elektrolit. Yogyakarata : Penerbit Nuha Medika.
Saptarini C, 2012. http://e-journal.uajy.ac.id/377/3/2BL01043.pdf. Diakses Di Makassar 27 April 2016. Jam 18.39 Wita.
Sari A, Citrakesumasari, Alharini S, 2013. Upaya Penanganan dan Perilaku Pasien Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Maccini Sawah Kota Makassar Tahun 2013.
Sutanto T, 2013. Diabetes Deteksi, Pencegahan, Pengobatan. Yogyakarta : Penerbit Buku Pintar.
Tarigan L.A, 2012. Defenisi Diabetes Mellitus. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30732/4/Chapter%20II.pdf. Diakses Di Makassar 27 April 2016. Jam 17.25 Wita.
Tjekyan S, 2007. Resiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe II di Kalangan  Peminum Kopi di Kotamadya Palembang Tahun 2006-2007. Makara Kesehatan. Vol. 11 No.2
Trisnawati S.K, Setyorogo S, 2013. Faktor Resiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan. 2013; 5(1).
Tucker, 2011. Primary Prevention Of Ischemic Stroke : A Statement For Healthcare Professionals From The Stroke Council Of The American Heart Association.
Upoyo A.S, Muniro, Maryana, 2015. Gambaran Elektrolit (Natrium – Kalium Serum) Penderita Diabetes Mellitus di RS Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto. Jurnal Kesehatan “Samodra Ilmu” Vol. 06 No. 01.
Utomo O.M, Azam M, Anggraini D.N, 2012. Pengaruh Senam Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes. Unnes Journal of Public Health. 2012; 1(1)

Witasari U, Rahmawaty S, Zulaekah S, 2009. Hubungan Tingkat Pengetahuan, Asupan Karbohidrat dan Serat Dengan Pengendalian Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. Vol. 10 No. 2

Yaswir R, Ferawati I, 2012. Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium, Kalium dan Klorida Serta Peeriksaan Laboratorium. Jurnal Kesehatan Andalas. 2012; 1(2).      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar