Visitor

Selasa, 28 Maret 2017

KARYA TULIS ILMIAH PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM MENGGUNAKAN MIKROSKOPIS LANGSUNG (direct) DENGAN METODE KUBICA (indirect)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Penyakit tuberculosis (TB) sudah ada sejak jaman purbakala. Penemuan arkeologis dimesir menemukan sisa tulang belakang manusia dengan  tanda Spondylitis tuberculosa dari tahun 1000 SM sampai tahun 3700 SM dengan ciri penyakit yang sama. Hippocrates berpendapat bahwa TB adalah penyakit keturunan. Galenus dokter dizaman romawi berpendirian TB adalah penyakit menular. Selama 15 abad kedua paham ini dianut berbagai ahli kedokteran. Villamin (1827-1892) pertama kali membuktikan  secara ilmiah TB adalah penyakit menular tetapi penyebabnya belum  diketahui. Robert Koch pada tanggal 24 maret 1982 menemukan basil TB  dan semua pihak menerima TB adalah penyakit menular. Laennec tahun  1819 menemukan stetoskop menjadikan pemeriksaan jasmani hal penting  dalam diagnosis klinis TB, hampir 70 tahun sebelum penemuan Robert Koch. Wilhelhm Rontgen tahun 1895 menemukan sinar-X sehingga  makin melengkapi diagnosis TB. Von Pirquet tahun 1907 menunjukan  sarana diagnosis lain TB dengan uji tuberculin. Penemuan Van Pirquet ini  disempurnakan oleh Mantoux dan tekniknya distandarkan kemudian  disebarluaskan, uji ini dikenal dengan nama Mantoux. Permulaan abad  ke-20 semua sarana diagnosis TB sudah tersedia lengkap dan dipakai terus  hingga sekarang  (Apri lyanda, 2012).
Tuberculosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB masih menjadi masalah kesehatan global dan merupakan penyebab kematian kedua setelah HIV. WHO memperkirakan bahwa  pada tahun 2011 ada 8,7 juta kasus baru TB (13% merupakan  koinfeksi dengan HIV) dan 1,4 juta orang meninggal karena TB  (Anonim,  2013).
Di Indonesia setiap tahunnya kasus TB paru bertambah  seperempat juta kasus baru dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap  tahunya. Indonesia termasuk 10 negara tertinggi penderita kasus  TB paru didunia. Menurut WHO (2012) dalam laporan  GLOBAL  REPORT 2011 bahwa prevalensi TB paru diperkirakan sebesar 289  kasus per 100.000 penduduk, dan angka kematian sebesar 27 kasus per  100.000 penduduk. Penderita TB paru yang tertinggi berada pada  kelompok usia produktif (15-50 tahun) yaitu berkisar 75%. Seorang  pasien TB paru dewasa diperkirakan akan kehilangan rata-rata waktu  kerjanya 3-4 bulan sehingga berakibat pada kehilangan pendapatan rumah  tangganya yaitu sekitar 20-30%. Selain merugikan secara ekonomis,  TB paru juga memberikan dampak buruk lainya, yaitu dikucilkan oleh  masyarakat (WHO, 2013).
Prevalensi TB paru di Indonesia, Sulawesi selatan berada pada posisi ke 17 dan merupakan daerah yang memiliki tingkat prevalensi tinggi dikawasan Indonesia timur dengan jumlah penderita TB paru yang tercatat mulai januari sampai dengan desember 2006 sebanyak 59,115 orang dengan kasus baru sebanyak 8,463 orang. Dari 23 kabupaten yang ada di Sulawesi selatan, Makassar merupakan penyumbang terbanyak dalam kasus TB paru ( WHO Global Tuberculosis Control, 2013).
Berdasarkan data yang diperoleh di BBKPM Makassar, jumlah pasien pada golongan penyakit TB paru BTA (+) pada tahun 2013 di balai besar kesehatan paru masyarakat Makassar mencakup 6,341 penderita (BBKMP, 2013).
Mengingat hal tersebut diatas maka perhatian perlu lagi  ditingkatkan untuk penyakit ini baik dalam diagnosis, pengobatan,  pencegahan maupun penemuan kasus sedini mungkin. Pemeriksaan  sputum dengan mikroskopis langsung mempunyai banyak kelemahan  karena harus terkandung minimal 5.000 kuman/cc sputum untuk  mendapatkan hasil positif, sehingga hasil negatif belum tentu berarti  tidak ada kuman. Pemeriksaan ini merupakan sarana diagnostik yang  termudah, tercepat dan termurah. Pemeriksaan sputum langsung atau tanpa pengolahan yang telah banyak dilakukan di puskesmas – puskesmas  tempat pemeriksaan awal penderita memiliki kelemahan karena masih  banyaknya jaringan dan lendir yang akan memperbesar volume sampel,  sehingga akan memperkecil kemungkinan untuk dapat mengambil sampel  yang mengandung kuman Mycobacterium tuberculosis (S.Darmawati, 2012).
Dekontaminasi dengan NaOH 4% metode kubica berguna untuk  pencairan dan pencucian sampel (melepaskan organisme dari sel  dan mucus). Suatu sampel dekontaminan dapat larut dan dapat membunuh beberapa bakteri dan jamur dari sputum dan tujuan dari pemusingan (sentrifuge) diharapkan agar bakteri yang semula tersebar dalam sampel pemeriksaan dapat terkumpul sehingga positif rate meningkat dan tingkat kontaminasi dapat diturunkan (Hernika  T, 2010).
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui perbandingan hasil pemeriksaan basil tahan asam antara mikroskopis langsung dan dengan metode kubica  agar diperoleh informasi tentang metode diagnosa penyakit TB yang lebih akurat.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan  masalah adalah : apakah ada perbandingan hasil pemeriksaan basil tahan asam antara mikroskopis langsung dan dengan metode kubica  ?

C.    TUJUAN PENELITIAN
1.      Tujuan umum
Untuk mengetahui perbandingan hasil pemeriksaan basil tahan asam menggunakan mikroskopis langsung dan dengan metode kubica.

2.      Tujuan khusus
a.       Untuk mengetahui cara pembuatan preparat apusan basil tahan asam dengan menggunakan mikroskopis langsung.
b.      Untuk mengetahui cara pembuatan preparat apusan basil tahan  asam dengan menggunakan metode kubica.
c.       Untuk mengetahui perbandingan hasil dari kedua metode tersebut.

D.    MANFAATPENELITIAN
1.      Akademik
Sebagai sumbangsih keputusan ilmiah bagi almamater program studi  DIII analis kesehatan stikes mega rezky makassar.
2.      Praktis
Sebagai informasi bagi praktisi laboratorium kesehatan terhadap hasil pemeriksaan sputum penderita tuberkulosis.
3.      Masyarakat
Sebagai informasi kepada masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh bakteri Mycrobacterium tuberkulosis.
4.      Peneliti
Sebagai khasana keilmuan yang diaplikasikan dalam suatu karya tulis ilmiah.






BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tinjauan Umum Tentang TB Paru
1.      Definisi TB Paru
Tuberkulosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh  Mycobacterium tuberculosis, yakni kuman aerob yang dapat hidup  terutama diparu atau diberbagai tubuh yang lainya yang mempunyai  tekanan parsial oksigen yang tinggi. Kuman ini juga mempunyai  kandungan lemak yang tinggi pada membran selnya sehingga  menyebabkan bakteri ini menjadi tahan terhadap asam dan  pertumbuhan dari kumanya berlangsung dengan lambat. TB  mendorong respon dari imun kita yang menyebabkan karusakan  jaringan yang signifikan. Bahkan pengobatan TB yang sukses sering  kali meninggalkan jaringan perut permanen dan fibrosis. TB yang  tidak diobati dapat berkembang menjadi emfiema tuberculosis dan  fibrotoraks. Angka mortalitas yang tinggi kadang disebabkan karena  ada kerusakan pada pembulu darah bronkus dan paru yang dapat  menyebabkan hemoptisis. TB aktif merupakan penyakit merusak yang  menyebabkan penurunan berat badan, demam, dan kehilangan nafsu  makan. Ketika seseorang dengan batuk TB paru aktif, bakteri dapat  dilepaskan keudara dan dapat menginfeksi orang lain. Hal ini terjadi  ketika ada bakteri Mycobacterium tuberculosis terjepit dialveoli. TB  yang telah terinfeksi aliran darah dan beredar seluruh tubuh dikenal  sebagai TB milier, yang merupakan bentuk yang sangat serius dari  penyakit ini (Monalisa M, 2015).

2.      Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis
Bentuk penyakit tuberculosis ini dapat diklasifikasikan menjadi  dua, yaitu tuberculosis paru dan tuberculosis ekstra paru.
a.       Tuberculosis Paru
Penyakit ini merupakan bentuk yang paling sering  dijumpai, yaitu sekitar 80% dari semua penderita. Tuberculosis  yang menyerang jaringan paru-paru ini merupakan satu-satunya  bentuk dari TB yang mudah tertular kepada manusia lain, asal  kuman bisa keluar dari sipenderita (sholeh S naga, 2012).
b.      Tuberculosis Ekstra Paru
Penyakit ini merupakan bentuk penyakit TB yang  menyerang organ tubuh lain, selain paru-paru, seperti pleura,  kelenjar limfe, persendian tulang belakang, saluran kencing, dan  susunan saraf pusat. Oleh karena itu, penyakit TB ini kemudian  dinamakan penyakit yang tidak pandang bulu, karena dapat  menyerang seluruh organ dalam tubuh manusia secara bertahap.  Dengan kondisi organ tubuh yang telah rusak, tentu saja dapat  menyebabkan kematian bagi penderitanya  (sholeh  S  naga,  2012).

3.      Patogenesis TB Paru
a.       Tuberculosis primer
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibatukan  atau dibersinkan keluar menjadi Droplet nuclei dalam udara  sekitar  kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama  1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi  yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap  kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila  partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel  pada saluran napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke  alveolar bila ukuran partikel < 5 mikrometer. Kuman akan  dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru makrofag  (Idrus A,  2009).
Pada sebagian kasus, kuman TB dapat dihancurkan  seluruhnya oleh mekanisme imunologis nonspesifik, sehingga tidak terjadi respons imunologis spesifik. Akan tetapi, pada  sebagian kasus lainya, tidak seluruhnya dapat dihancurkan. pada  individu yang tidak dapat menghancurkan seluruh kuman,  makrofag alveolus akan mengfagosit kuman TB yang sebagian  besar dihancurkan. Akan tetapi, sebagian kecil kuman TB yang  tidak dapat dihancurkan akan terus berkembang biak didalam  makrofag, dan akhirnya menyebabkan  lisis  makrofag  (Kemenkes, 2013).
Kuman yang bersarang dijaringan paru akan ber-bentuk  sarang tuberculosis pneumonia dan disebut sarang primer atau  efek primer atau sarang focus Ghon. Sarang primer ini dapat  terjadi disetiap bagian jaringan paru. Bila menjalar sampai ke  pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat juga masuk  melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan  kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk  kedalam vena dan menjalar keseluruh organ seperti paru, otak,  ginjal, dan tulang. Bila masuk ke Arteri pulmonalis maka terjadi  penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier (Aru W,  2009).
Dari fokus primer Ghon, kuman TB menyebar melalui  saluran limfe menuju kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe  yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus primer.  Penyebaran  ini menyebabkan terjadinya inflamasi disaluran limfe  (limfangitis)  dan dikelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika focus primer  terletak dilobus bawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan  terlibat adalah kelenjar limfe parahilus (perihiler), sedangkan jika  focus primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah  kelenjar paratrakeal. Gabungan antara focus primer, limfangitis,  dan limfadenitis dinamakn kompleks primer (Kemenkes,  2013).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga  terbentuknya kompleks primer secara lengkap disebut sebagai  masa inkubasi. Masa inkubasi TB bervariasi selama 2-12 minggu,  biasanya berlangsung selama 4-8 minggu (Kemenkes,  2013).
b.      Tuberculosis pasca primer (Tuberkulosis sekunder)
Kuman yang Dormant pada tuberculosis primer akan  muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen  menjadi tuberculosis dewasa (tuberculosis post primer = TB pasca  primer = TB sekunder). Tuberculosis sekunder terjadi karena  imunitas menurun seperti malnutrisi, alcohol, penyakit maligna,  diabetes, AIDS, gagal ginjal. Tuberculosis pasca primer ini  dimulai dengan sarang dini yang berlokasi diregio atas paru  (bagian apical-posterior lobus superior atau inferior). Invasinya  adalah didaerah parenkim paru-paru dan tidak kenodus hiler paru.  Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk pneumonia kecil. Dalam  3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma  yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel latia-langhans (sel besar  dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan  berbagai jaringan ikat (Bambang  S,  2009).

4.      Penularan Penyakit TB Paru
Banyaknya kuman dalam paru-paru penderita menjadi satu  indikasi tercepat penularan penyakit tuberculosis ini terjadi diudara  melalui sputum yang berupa Droplet. Bagi penderita tuberculosis paru  yang memiliki banyak sekali kuman, dapat terlihat langsung dengan  mikroskop pada pemeriksaan sputumnya. Hal ini tentunya sangat  menular dan berbahaya bagi lingkungan penderita (Sholeh S naga,  2012)
Pada saat penderita batuk atau bersin, kuman TB paru dan BTA  positif yang berbentuk droplet sangat kecil ini akan berterbangan  diudara. Droplet yang sangat kecil ini kemudian mengering dengan  cepat dan menjadi droplet yang mengandung kuman tuberculosis.  Kuman ini dapat bertahan diudara selama beberapa jam lamanya,  sehingga cepat atau lambat droplet yang mengandung unsur kuman  tuberculosis akan terhirup oleh orang lain. Apabila droplet ini telah  terhirup dan bersarang didalam paru-paru seseorang, maka kuman ini  akan mulai membela diri atau berkembang biak. Dari sinilah akan  terjadi infeksi dari satu penderita kecalon penderita lain  (mereka yang  telah terjangkit penyakit)  (Sholeh S naga, 2012).

Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh  banyaknya kuman yang dekeluarkan dari paru-parunya. Makin tinggi  derajat positif hasil pemeriksaan sputum, makin menular penderita  tersebut. Bila hasil pemeriksaan sputum, negative (tidak terlihat  kuman), maka penderita tersebut tidak menular. Kemungkinan  seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam  udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Bakteri yang terkumpul  didalam paru-paru dapat menyebar melalui pembuluh darah atau  kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TB dapat menginfeksi  hampir seluruh organ tubuh seperti : paru-paru, otak, ginjal, saluran  pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain. Meskipun  demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru. (Hernika  T, 2010).

1.      Tanda dan Gejala Klinis Penyakit TB Paru
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan  gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat.  Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru,  sehingga cukup sulit untuk menegakan diagnosa secara klinis  (Monalisa M, 2015).
Gejala umum adalah berupa batuk-batuk selama lebih dari 3  minggu (dapat disertai dengan darah), demam tidak terlalu tinggi yang  berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat  malam, kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat  hilang timbul, penurunan nafsu makan dan berat badan, perasaan tidak  enak (malaise), lemah (Monalisa M, 2015).
Sedangkan gejala khusus tergantung dari organ tubuh mana yang  terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju  keparu-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar,  akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah yang disertai  sesak. Jika ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat  disertai dengan keluhan sakit dada. Bila mengenai tulang, maka akan  terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat  membentuk saluran dan bermuara pada kulit diatasnya, pada muara ini  akan keluar cairan nanah. Pada anak-anak dapat mengenai otak  (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang  selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan  kesadaran dan kejang-kejang (Monalisa M, 2015).
1.      Diagnosis Laboratorium
Diagnosis tuberculosis dapat ditegakan dari anamnesis,  pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainya.  Pada program penanggulangan tuberculosis dengan strategi DOTS,  pemeriksaan hapusan sputum mikroskopis dan sinar x tembus dada  merupakan metode standar. Dalam perkembanganya kini banyak  teknik diagnostik baru yang diperkenalkan dan telah cukup luas  dipakai, misalnya Polymerase chain reaction (PCR), Bact alertNucleid acid amplification, dan Deteksi interferon gamma (Nur Adi,  2013).
Sampai dewasa ini diagnosis tuberculosis paru yang digunakan  secara rutin di laboratorium klinik, termasuk Rumah Sakit dan  puskesmas adalah diagnosis bakteriologis dengan teknik mikroskopis  BTA pada sediaan apusan sputum. Pada kasus tertentu dilakukan   kultur untuk konfirmasi diagnosis laboratorium. Teknik kultur  memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi, dapat mendeteksi  paling sedikit 10 mikrobakteria/ml specimen sputum, kendalanya  selain memerlukan waktu yang lama lebih dari satu minggu untuk  memperoleh hasilnya, juga diperlukan suatu fasilitas laboratorium  khusus untuk kultur Mycobacterium tuberculosis yang terjamin  keamananya (Nur Adi, 2013).
Teknik mikroskopis langsung dapat dilakukan dalam waktu relatif  cepat tetapi teknik ini kurang sensitive, dibutuhkan paling sedikit   mikrobakteria/ml specimen sputum untuk mendapatkan hasil yang  positif, yang merupakan kendala pada kasus dini, karena umumnya  belum banyak jumlah mikroba dalam sputum penderita(Nur Adi, 2013).
Untuk menentukan adanya BTA dalam sputum diperlukan cara  pengambilan sputum yang baik dan benar. Pewarnaan ZN digunakan  untuk mendeteksi BTA dalam sputum. Untuk peningkatan efektivitas  pewarnaan ZN dalam mendeteksi BTA dalam sputum, diperlukan  proses dekontaminasi sebelum pewarnaan. Dekontaminasi sputum  dengan zat yang telah ditentukan berarti kuman lain dibunuh,  sedangkan BTA terkonsentrasi dalam sedimen sputum. Dengan  sedimen sputum ini dilakukan pewarnaan ZN (Hernika T, 2015).
2.      Pengobatan dan Pencegahan Penyakit TB
Tujuan pengobatan TB paru yaitu untuk menyembuhkan  penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan  rantai penularan dan mencega  terjadinya resistensi kuman terhadap  OAT  (Obat Anti Tuberkulosis).
Jenis OAT terdiri dari Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid  (Z), Etambutol (E), dan Streptomisin (H). Pengobatan TB diberikan  dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan, pada tahap intensif  (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara  langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat, bila pengobatan  tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita  menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu,  sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negative  (konversi) dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan penderita mendapat  jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama,  tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga  mencegah terjadinya kekambuhan (Anonim,  2007).
Upaya pencegahan adalah upaya kesehatan yang dimaksudkan  agar setiap orang terhindar dari terjangkitnya suatu penyakit dan dapat  mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Tujuanya adalah untuk  mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit  yaitu penyebab penyakit (agent), manusia atau tuan runag (host) dan  factor  lingkungan (environment)  (Notoatmojo,  2007).
Banyak hal yang bisa dilakukan mencegah terjangkitnya TBC  paru. Pencegahan-pencegahan berikut dapat dikerjakan oleh penderita,  masyarakat, maupun petugas kesehatan  :
a.       Bagi penderita, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan  menutup mulut saat batuk, dan membuang sputum tidak  disembarangan tempat.
b.      Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan  dengan meningkatkan ketahanan terhadap bayi, yaitu dengan  memberikan vaksinasi BCG.
c.       Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan  memberikan penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi  gejala, bahaya, dan akibat yang ditimbulkanya terhadap  kehidupan masyarakat pada umumnya.
d.      Pencegahan penularan juga dapat dicegah dengan  melaksanakan desinfeksi, seperti cuci tangan, kebersihan  rumah yang ketat, perhatian khusus terhadap muntahan atau  ludah anggota keluarga yang terjangkit penyakit ini (Piring,  Tempat tidur, Pakaian), dan menyediakan ventilasi rumah dan  sinar matahari yang cukup (Sholeh S Naga,  2012).




A.    Tinjauan Umum Tentang BTA
Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab terjadinya  penyakit tuberculosis. Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert  Koch pada tahun 1882. Hasil penemuan ini diumumkan di Berlin pada  tanggal 24 maret 1882 dan tanggal 24 setiap tahunnya diperingati sebagai  Hari Tuberkulosis (Notoatmodjo,  2007).
Klasifikasi Mycobacterium tuberculosis  :
Kingdom         :           protophyta
Division           :           schizomycetes
Class                :           bakteri
Ordo                :           actinomycetales
Family             :           mycobacteriaceae
Genus              :           mycobacterium
Spesies :           Mycobacterium tuberculosis
Mycobacterium tuberculosis adalah kuman yang termasuk genus  Mycobacterium, family mycobacteriaceae dan ordo actinomycetalesMykobakterium tuberculosis merupakan basil gram positif dan  mengandung asam mikolik (waxes), didinding selnya yang menyebabkan  kuman bersifat tahan asam dan dapat menimbulkan infeksi kronis (Erma  lestari,  2005).
Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau agak  bengkok, panjang 1-4 mikron, lebar antara 0,3-0,6 mikron, obligat, tidak  membentuk spora, tidak motil, tidak berkapsul dan tidak tahan terhadap  penghilangan zat warna dengan asam alkohol (Erma  lestari,  2005).
Kemampuan mikobakterium tuberculosis dalam menginfeksi hospes dan bertahan terhadap pengaruh factor lingkungan tidak lepas dari struktur dan komponen penyusun sel, unsur-unsur yang tercantum dibawa ini terutama ditemukan dalam dinding sel. Dinding sel mikobakteria dapat merangsang hipersensitifitas jenis lambat dan merangsang suatu kekebalan terhadap infeksi.
Komponen basil tuberculosis terdiri dari :
1.      Lemak (lipid)
Mikobakteria kaya akan lemak kompleks (lipid), kandungan lemak pada dinding sel antara 20 hingga 40%  dari berat keringnya. Didalam sel lemak terikat pada protein dan polisakarida. Lemak bertanggung jawab terhadap sebagian besar reaksi-reaksi seluler jaringan dari bakteri tuberculosis. Selain itu lemak juga bertanggung jawab terhadap sifat tahan asam, apabila lemak bakteri tuberculosis dihilangkan dengan eter, maka sifat tahan asam akan hilang.
2.      Protein
Masing-masing tipe mikobakteria berisi beberapa protein yang mendatangkan reaksi tuberculin. Ikatan protein pada fraksi lilin, dengan injeksi menyebabkan sensitivitas tuberculin. Protein ini juga dapat menimbulkan pembentukan berbagai antibody. Antigen dengan berat molekul 6 kDa, 16 kDa, 38 kDa merupakan protein antigen yang dikeluarkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang dapat menimbulkan antibody.
3.      Polisakarida
Peranan polisakarida dalam pathogenesis belum diketahui secara pasti, namun hasil penelitian mengindikasikan bahwa beberapa polisakarida dapat merangsang hipersensitivitas tipe cepat dan bertindak sebagai antigen dalam reaksi dengan serum orang terinfeksi  (Syahruni H, 2010).
Dinding Mycobacterium tuberculosis sangat kompleks, terdiri dari  lapisan lemak cukup tinggi (60%). Penyusun utama dinding sel M. Tuberkulosis ialah asam mikolad, lilin kompleks (complex-waxes),  trehalosa dimikolat yang disebut cord factor dan mycobacterial sulfolipids  yang berperan dalam virulensi. Asam mikolad merupakan asam lemak  berantai panjang (C60-C90) yang menghubungkan dengan  arabinogalaktan oleh ikatan glikolipid dan dengan peptidoglikan oleh  jembatan fosfodiester. Asam Mikolad mempunyai lapisan dinding yang  sangat tebal, terdiri dari cabang-cabang dari asam lemak saturated a-alkyl  B-hydroxyl fatty acids dalam bentuk lapisan lilin (wax). Unsur lain yang  terdapat pada dinding sel bakteri tersebut adalah polisakarida seperti  arabinogalaktan dan arabinomanan. Kompleks peptidoglikan,  arabinogalaktan, dan asam mikolad dari cord factor berfungsi sebagai cell  wall skeleton. Struktur dinding sel yang kompleks tersebut menyebabkan  M.  Tuberculosis bersifat tahan asam  (Sylvia  R,  2011).
Karakteristik M. Tuberkulosis ditandai oleh sifat alami dari  dinding selnya. Struktur dinding selnya mempengaruhi resistensi M. Tuberkulosis terhadap bahan-bahan dari lingkungan. Dari respon imun  inang dan berperan pada patogenitasnya. Sitoplasma sel M. Tuberkulosis  diselimuti oleh membran lipid dua lapis. Peptidoglikan yang kaku  merupakan lapisan sebelah dalam dinding sel. Sejumlah protein  berhubungan dengan peptidoglikan, yang terletak diantara membran,  beberapa protein ini mungkin imonugenik atau berupa epitop yang dapat  menginduksi pembentukan antibody (Hernika T, 2010).
Arabinomanan menancap dalam membran sel dan meluas kepermukaan. Arabinomanan merupakan campuran heterogen dari  phosphorilated polysaccharide yang terdiri dari arabinose dan mannose. Lapisan dinding sel wax mengandung asam mikolik dan glikopeptida juga dapat meningkatkan imunogenitas dan menginduksi delayed type hypersensitivitas (Hernika T, 2010).

A.    Tinjauan Umum Tentang Sputum
Sputum adalah hasil sekresi mekanisme pembersihan dari trakea dan bronki serta dikeluarkan melalui batuk yang dalam. Sputum yang kemungkinan mengandung kuman BTA adalah yang berasal dari lesi paru terbuka. Sputum tersebut dapat berupa mukopurulen atau purulen (Erma lestari, 2005).
Pemeriksaan sputum penting karena dengan ditemukanya kuman BTA diagnosa tuberculosis suda dapat dipastikan. Disamping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang suda diberikan (Nur Adi, 2013).
1.      Pengambilan specimen sputum
Pasien diberitahu bahwa contoh uji sputum sangat bernilai untuk menentukan status penyakitnya, karena itu anjuran pemeriksaan SPS untuk pasien baru dan SP untuk pasien dalam pemantauan pengobatan harus dipenuhi. Sputum yang baik adalah yang berasal dari saluran nafas bagian bawah, berupa lendir yang berwarna kuning kehijauan (mukopurulen). Pasien mengumpulkan sputum dalam keadaan perut kosong, sebelum makan/minum dan membersihkan rongga mulut terdahulu dengan berkumur air bersih (Kemenkes, 2012).
Bila ada kesulitan mengeluarkan sputumnya pasien harus diberi obat ekspektoran yang dapat merangsang pengeluaran sputum dan diminum pada malam sebelum mengeluarkan sputum. Olahraga ringan sebelum mengeluarkan sputum juga dapat merangsang sputum keluar. Sputum adalah bahan infeksius sehingga pasien harus berhati-hati saat mengeluarkanya dan mencuci tangan. Pasien dianjurkan membaca prosedur pengumpulan sputum yang tersedia ditempat/lokasi (Kemenkes, 2012).
Pengumpulan sputum dilakukan diruang terbuka dan mendapat sinar matahari langsung atau diruangan dengan ventilasi yang baik, untuk mengurangi kemungkinan penularan akibat percikan sputum yang infeksius. Tempat pengumpulan sputum dilengkapi dengan prosedur mengeluarkan sputum, tempat cuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Waktu pengumpulan sputum yaitu :
a.       S (Sewaktu, pertama): Sputum dikumpulkan saat datang pada  kunjungan pertama.
b.      P (Pagi) : Sputum dikumpulkan pagi segera setelah bangun tidur pada hari ke-2, dibawa langsung oleh pasien kelaboratorium.
c.       S (Sewaktu, kedua) : Sputum dikumpulkan dilaboratorium pada hari ke-2 saat menyerahkan dahak pagi (Kemenkes, 2012).


1.      Sputum dengan homogenisasi NaOH 4%
Homogenisasi/ dekontaminasi merupakan suatu metode untuk mengumpulkan kuman TB didalam sampel yang semula tersebar menjadi terkumpul dan juga dapat membunuh kuman selain M.Tuberkulosis (Hernika T, 2015).
Teknik homogenisasi/ dekontaminasi yang biasa digunakan adalah metode kubica yaitu dengan mencampurkan satu bagian NaOH 4% dengan satu bagian sputum, dikocok-kocok selama 15 menit, kemudian disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm. Selama 15 menit, supernatan dibuang kemudian filtrate dibuat smear dan siap untuk dilakukan pengecatan dengan metode Ziehl Nelseen (Erma L, 2005)
Homogenisasi/ Dekontaminasi dengan NaOH 4% metode kubica berguna untuk pencairan dan pencucian sampel (melepaskan organisme dari sel dan mucus).Suatu sampel dekontaminan dapat larut dan dapat membunuh beberapa bakteri dan jamur dari sputum sehingga positif rate meningkat dan tingkat kontaminasi dapat diturunkan (Hernika T, 2010).

A.    Tinjauan Umum Tentang Pembuatan Apusan/Preparat
Sediaan apusan terdiri dari ukuran, kerataan, ketebalan, dan kebersihan sediaan apus. Ukuran sediaan hapus yang baik ialah 2x3 cm, karena dengan ukuran tersebut dapat dibaca 150 lapang pandang sepanjang garis tengah dari kiri kekanan. Kerataan sediaan apus dilihat dari dahak yang tersebar merata, tidak terlihat daerah yang kosong pada kaca objek. Ketebalan sediaan apus diperiksa dengan cara memegang sediaan apus yang belum dicat 4-5 cm diatas surat kabar. Ketebalan sediaan apus dianggap baik apabila huruf-huruf tulisan pada surat kabar masih dapat terbaca. Secara mikroskopis, leukosit tersebar merata dan tidak saling bertumpuk. Sedangkan kebersihan sediaan apus, sediaan harus terbebas dari sisa-sisa zat warna fukhsin, kotoran serta Kristal yang dihasilkan dari pemanasan terlebih saat pewarnaan (Depkes RI, 2007).
Sediaan yang telah dibuat dikeringkan pada suhu ruang kemudian fiksasi dengan melewatkan sediaan diatas api 2-3 kali, fiksasi dilakukan dekat dengan sumbu dan jangan terlalu lama. Apusan yang telah dibuat harus dikeringkan lalu difiksasi, tujuan dari fiksasi ini adalah melekatkan bakteri pada glass objek dan mematikan bakteri (Depkes RI, 2011)
A.    Tinjauan Umum Tentang Pewarnaan
Pewarnaan mula-mula dikembangkan oleh Paul Erlich pada tahun 1882 sebagai zat warna utama menggunakan Aniline oil metil violet, pelunturnya asam klorida (HCL) dan zat warna lawanya Bismarc brown  y.  Erlich menemukan bahwa bakteri tuberkel (Mycobacterium tuberculosis) sesudah diwarnai dengan pewarna aniline dan kemudian ditangani dengan asam, tidak kehilangan warnanya. Metode ini dikembangkan oleh Zielh (1882) mengganti aniline dengan fenol, dan Neelsen (1883)  menggunakan karbol fukhsin sebagai aniline dan asam sulfat (H2SO4) sebagai pengganti asam khlorida (HCL). Perkembangan selanjutnya, sebagai peluntur zat warna utama adalah asam alcohol dan sebagai zat warna lawan adalah methilen blue. Metode pewarnaan ini disebut Ziehl Neelsen, sesuai dengan nama peneliti yang mengembangkanya (Syahruni H, 2010).
Pewarnaan ini ditunjukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya karbol fukhsin melalui proses pemanasan, maka akan menyerap zat warna dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun seperti asam alcohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA). Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan bakteri penyebab tuberculosis yaitu Mycobacterium tuberculosis. Ada beberapa cara pewarnaan tahan asam, namun yang paling banyak adalah cara menurut Ziehl-Neelsen (Hernika T, 2014).
Komposisi dari pewarna Ziehl Neelsen terdiri dari :
1.      Karbol fukhsin, adalah campuran antara fenol (C6H5OH) dan fukhsin basa (C2OH19N3.HCL) larutan dalam campuran air alcohol-fenol, umumnya digunakan dalam prosedur pewarnaan mikobakteri yang memiliki kandungan asam mikolad yang cukup tinggi pada dinding selnya. Sifat-sifat dari karbol  fukhsin yaitu mudah menembus lapisan lemak, mewarnai bagian inti dan sel bakteri, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap sel bakteri yang mengandung asam mikolad.
2.      Asam Alkohol 3%, asam alcohol yang digunakan disini adalah campuran antara HCL pekat dan Etanol 96%, 3 ml HCL pekat dilarutkan dengan Etanol 96% sebanyak 97 ml. larutan ini digunakan sebagai dekolorisasi pada pewarnaan Ziehl Neelsen.
3.      Methilen bleu, zat warna yang biasa digunakan sebagai indikator, pada bidang ilmu biologi methilen blue (C16H18N3CIS) digunakan sebagai pewarna dalam pewarnaan. Larutan methilen blue dapat digunakan untuk mewarnai RNA atau DNA. Methilen blue bersifat sedikit beracun dan tidak merusak rantai asam nukleotida pada proses pewarnaan. Methilen blue yang digunakan pada pewarnaan Ziehl adalah methilen blue 0,3% yang dibuat dengan melarutkan 0,3 gram serbuk methilen blue dengan aquades sebanyak 100ml/l.

Prosedur pewarnaan tahan  asam yang paling tua, pewarnaan Ziehl Neelsen mensyaratkan bahwa pewarna karbol fukhsin dipanasi sampai beruap selama proses pewarnaan.  Zat dekolorisasi adalah campuran asam hidroklorida pekat dan alcohol 96% dan zat warna tandinganya adalah methilen blue. Pewarnaan ini tergolong pewarnaan diferensial karena dapat membedakan bakteri yang tahan asam dan yang tidak tahan asam. Sediaan apus bakteri yang suda difiksasi dipanasi dengan karbol fukhsin, dekolorisasi dengan asam alcohol 3%, mikobakteri dan nokardium tidak akan melepas warnanya sesudah diperlakukan dengan asam. Hal tersebut disebabkan karna kadar asam-asam mikolad pada dinding sel sangat tinggi yang membuat sel mikobakteri Nampak seperti lilin dan bersifat hidrofob (Syahruni H, 2010).
Pewarnaan metode Ziehl Neelsen mempunyai prinsip dasar yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis pada saat ditetes dengan karbol fukhsin dan dipanaskan maka lapisan lipid pada dinding sel akan terbuka sehingga karbol fukhsin akan masuk kedalam sel, pada saat didinginkan kembali maka lapisan lipid akan tertutup kembali sehingga pada saat dekolorisasi dengan HCL alcohol 3% karbol fukhsin tidak akan luntur dan diberikan larutan methilen blue sebagai warna latar belakang (Hernika T, 2014).


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian yang disajikan dalam bentuk deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil pemeriksaan basil tahan asam  menggunakan mikroskopis langsung dan dengan metode kubica.

B.     Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan juni – juli 2016.

C.    Populasi sampel
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah penderita TB paru yang melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar.
2.      Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sputum penderita TB paru yang negatif (-), scanty, 1+, 2+, dan 3+.
3.      Besaran sampel
Sampel pada penelitian ini diambil sebanyak 10

4.      Tehnik pengambilan sampling
Tehnik pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampling.

D.    Kriteria Sampel
1.    Kriteria inklusi
a.    Suspek TB paru yang baru melakukan pemeriksaan
b.    Sampel sputum dengan pemeriksaan mikroskopis langsung
c.    Sampel sputum dengan menggunakan metode kubica
2.    Kriteria eksklusi
a.    Pasien TB paru yang sudah mendapatkan pengobatan OAT
b.    Pasien yang tidak bersedia menjadi subjek penelitian.

E.     Variable Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variable terikat dan independen
1.    Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sputum penderita TB paru.
2. Variable independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah bakteri Basil Tahan Asam.



F.     Definisi Operasional
1.      TB paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis atau basil tuberkel yang tahan asam.
2.      Bakteri tahan asam adalah bakteri yang pada pengecetan ZN tetap mengikat warna pertama, tidak luntur oleh asam dan alkohol 3 %, sehingga tidak mampu mengikat zat warna kedua, di bawa mikroskop tampak bakteri berwarna merah dengan latar biru.
3.      Sputum adalah bahan yang dikeluarkan dari paru-paru, bronkus, dan trakea melalui mulut.
4.      NaOH 4%-NALC-Natrium Sitrat adalah senyawa dekontaminasi yang digunakan dalam pembuatan preparat penderita TB untuk membunuh bakteri dan fungi lain yang terdapat dalam sputum.
5.      Preparat dengan homogenisasi/dekontaminasi adalah preparat yang dibuat apusan dengan penambahan senyawa dekontaminasi.
6.      Pewarnaan Ziehl Neelsen adalah pewarnaan tahan asam yang menggunakan carbol fuchsin 0,3% sebagai pewarna utama, HCL alkohol 3% sebagai peluntur, dan methilen blue 0,3% sebagai warna latar/dasar.




G.    Alat dan Bahan
1.    Alat
Rak sediaan, Pinset, Lampu spiritus, Stopwatch, Kaca objek, Ose/lidi, Pipet tetes, Air mengalir/botol semprot air, Mikroskop dan oil imersi, centrifuge, pipet, thermo HT, tabung falkon.
2.    Bahan
Carbol fuchsin 0,3%, Larutan peluntur (HCL alkohol) 3%, Larutan methilen blue 0,3%,NALC 1 gr (N-Acetyl-L-cystein + NaOH 4%).

H.    Prosedur Kerja
1.    Pengambilan sampel sputum
a.       S (sewaktu), Sputum dikumpulkan pada saat suspek TB paru datang pertama kali. Saat pulang suspek membawa sebuah pot sputum untuk sputum hari kedua.
b.      P (pagi), Sputum dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua segera setelah bangun tidur.
c.       S (sewaktu), Sputum dikumpulkan di unit pelayanan kesehatan (UPK) pada hari kedua saat menyerahkan sputum pagi.

2.    Pembuatan preparat.
a.    Pembuatan preparat metode smear langsung
1)        Ambil contoh uji dahak pada bagian yang purulen dengan lidi.
2)        Sebarkan diatas kaca sediaan dengan bentuk oval ukuran 2x3 kemudian ratakan dengan gerakan spiral kecil-kecil. Jangan membuat gerakan spiral bila sediaan dahak sudah kering karena akan menyebabkan aerosol.
3)        Keringkan pada suhu kamar.
4)        Masukan lidi bekas kedalam wadah berisi desinfektan.
5)        Fiksasi dilakukan dengan memegang kaca sediaan dengan pinset, pastikan kaca sediaan menghadap keatas. Lewatkan sediaan diatas api bunsen yang berwarna biru 2-3 kali selama 1-2 detik.

b.    Pembuatan preparat dengan metode kubica
1)        Sputum dimasukan kedalam tabung falkon ( tabung centrifuge) sebanyak 50 ml.
2)        Tambahkan larutan dekontaminasi yaitu larutan NaLC 1 gr (N-Acetyl-L-cystein + NaOH 4%) dengan volume perbandingan yang sama (1:1).
3)        Divortex selama beberapa detik, pastikan spesimen benar-benar tercampur. Jika masih berlendir, tambahkan sejumlah kecil bubuk NALC (0,1-0,2 gr) langsung ke tabung spesimen.
4)        Biarkan selama 15 menit pada suhu kamar.
5)        Kemudian tambahkan Phospat Buffer Saline (PBS) pH 6,8 hingga volume mencapai 50 ml.
6)        Centrifuge spesimen dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit.
7)        Diamkan selama 5 menit untuk memungkinkan aerosol menetap.
8)        Supernatan dibuang secara perlahan dan endapan ditambahkan 1-2 ml PBS ( pH 6,8).
9)        Selanjutnya hasil dekontaminasi ini dibuat smear mikroskopi dengan bantuan pipet.
10)    Lalu keringkan diatas thermo HT.

c.    Pewarnaan menggunakan metode Ziehl Neelsen
1)      Diletakan sediaan diatas rak dengan jarak minimal 1 jari telunjuk.
2)      Tuangkan carbol fuchsin 0,3 % menutupi seluruh permukaan sediaan.
3)      Panaskan sediaan dengan sulut api sampai keluar uap (jangan sampai mendidih), kemudian dinginkan selama lima menit.
4)      Buang carbol fukhsin perlahan-lahan satu persatu.
5)      Bilas dengan air mengalir.
6)      Tuangkan asam alcohol 3 % pada sediaan biakan beberapa saat lalu bilas dengan air sampai bersih, tidak tampak sisa zat warna merah. Bila masi tampak warna merah lakukan decolorisasi beberapa kali.
7)      Bilas dengan air mengalir.
8)      Tuangkan 0,3 % methilen blue hingga menutupi seluruh sediaan dan biarkan 10-20 detik.
9)      Buang methilen blue setu persatu sediaan.
10)   Bilas dengan air mengalir.
11)   Keringkan sediaan pada rak pengering.

3.    Pembacaan dan pelaporan hasil
a.       Pembacaan
1)        Sediaan yang telah kering ditetesi minyak imersi.
2)        Dilihat dengan mikroskop dengan pembesaran obyektif 10x untuk menentukan focus atau lapang pandang.
3)        Lensa obyektif 100x dilakukan pembacaan disepanjang garis horisontal dari ujung kiri ke ujung kanan atau sebaliknya.
4)        Dicari dengan adanya batang panjang atau pendek yang berwarna merah dengan latar belakang berwarna biru.
5)        Dibaca minimal 100 LP.

b.      Pelaporan hasil
Pelaporan hasil pemeriksaan mikroskopis dengan mengacu kepada skala International Union Against To Lung Disease (IUATLD) :
1)        Negatif : tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang.
2)        Scanty : ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang (tuliskan jumlah BTA yang ditemukan).
3)        1+ : ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang
4)        2+ :ditemukan 1-10 BTA setiap 1 lapang pandang
(periksa minimal 50 lapang pandang).
5)        3+ : ditemukan ≥ 10 BTA dalam 1 lapang pandang (periksa minimal 20 lapang pandang).
A.  AnalisaData
Hasil uji laboratorium akan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar yang selanjutnya dianalisa secara deskriptif  dan dibandingkan dengan tingkat hasil pemeriksaan mikroskopis langsung dan metode kubica.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dari 10 sampel sputum penderita Tb dengan metode mikroskopis langsung (direct) dengan metode kubica (indirect) yang dilakukan pada tanggal 27 juni sampai 04 juli 2016 di Laboratorium Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar, maka diperoleh hasil pemeriksaan yang tersedia pada table berikut :
Tabel 1. Perbandingan hasil antara pemeriksaan mikroskopis      langsung (direct) dengan menggunakan metode kubica (indirect)


NO

KODE
SAMPEL

MIKROSKOPIS
LANGSUNG (DIRECT)

METODE
KUBICA (INDIRECT)

1
741273
1+
3+
2
748782
Neg
3+
3
748783
3+
3+
4
749563
2+
2+
5
H049
1+
1+
6
OAT 393
2AFB
2AFB
7
733484
Neg
Neg
8
757017
1+
1+
9
761791
2+
2+
10
762284
3+
3+
Sumber : Data Primer Juli 2016
Tabel diatas menunjukan hasil pemeriksaan sampel sputum dengan metode kubica (indirect) diperoleh BTA lebih banyak dibandingkan dengan mikroskopis langsung (direct).
B.      Pembahasan
Penelitian ini adalah penelitian yang disajikan dalam bentuk deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil antara pembuatan preparat sputum penderita Tb dengan menggunakan mikroskopis langsung (direct) dan dengan metode kubica (indirect). Sampel dianalisis di Laboratorium Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung (direct) dengan metode kubica (indirect) dapat lebih mengkonsentrasikan BTA yang semula tersebar dan dalam keadaan bebas. Hal tersebut dapat lebih mempermudah ditemukanya BTA. Dari data hasil pemeriksaan diatas, sampel yang dibuat dengan mikroskopis langsung (direct) dan yang dibuat dengan metode kubica (indirect), diperoleh hasil dengan jumlah kuman dimana dengan metode kubica (indirect) lebih banyak ditemukan kuman Mycobacterium tuberculosis dari pada yang dibuat pulasan langsung (direct).
Terkait dengan metode kubica (indirect) dan dengan mikroskopis langsung (direct) juga dapat memberikan gambaran bahwa metode kubica (indirect) lebih unggul dalam metode pemeriksaan BTA dimana hasil yang ditemukan memiliki perbedaan. Ini menunjukan bahwa metode kubica (indirect) pada saat pembuatan sediaan dapat memudahkan penemuan dan memperbanyak jumlah BTA yang ditemukan.
Pada metode kubica (indirect) intensitas warna biru pada latar belakang lebih sedikit dibandingkan dengan mikroskopis langsung (direct) yang mempunyai intensitas warna biru pada latar yang lebih pekat selain itu terlihat lebih bersih pada saat pemeriksaan dimikroskop. Hal tersebut dikarenakan penambahan larutan dekontaminasi NALC (N-Acetyl-L-cystein + NaOH 4%) yang dapat menghancurkan dan mematikan zat lain yang terdapat dalam sampel sputum seperti sel-sel epitel, leukosit, benang lendir, dan zat lainya yang terdapat dalam sputum rusak akibat proses dekontaminasi sehingga sediaan tampak lebih bersih.
Proses metode kubica (indirect) juga dapat meyebabkan BTA terlepas dan dalam keadaan bebas sehingga dapat terwarnai dengan baik dan dapat ditemukan dalam jumlah yang banyak. Sedangkan pada mikroskopis langsung (direct) sputum yang purulen dapat menutupi BTA pada saat pembuatan sediaan serta sifat intraseluler dari BTA sehingga setelah terwarnai BTA sulit ditemukan atau tidak tampak pada pemeriksaan mikroskop.
Pemeriksaan sputum menggunakan metode kubica dilaksanakan dengan beberapa langkah kerja yaitu dimulai dari pencampuran sputum dengan larutan NALC (N-Acetyl-L-cystein + NaOH 4%) , homogenisasi dan sentrifugasi. Proses homogenisasi bertujuan untuk menghomogenkan sputum sehingga kuman BTA yang terdapat dalam sputum akan tersebar merata. Sentrifugasi dilakukan untuk mengkonsentrasikan kuman BTA pada satu titik sehingga uintuk proses pengambilan sampel akan lebih efektif. Kecepatan sentrifugasi yang digunakan yaitu 3000 rpm selama 15 menit, pada kecepatan ini kuman BTA diendapkan secara efektif.
Sesuai hasil penelitian, didapatkan Neg (-)  pada pemeriksaan mikroskopis langsung (direct), menggunakan metode kubica (indirect) 3+ sedangkan hasil mikroskopis (direct) didapatkan 1+ dan untuk metode kubica (indirect) didapatkan 3+ , hal ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara sampel yang dibuat dengan mikroskopis langsung (direct) dengan sampel yang dibuat dengan menggunakan metode kubica (indirect).
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pada pemeriksaan Tb seperti faktor internal yaitu dahak yang tidak purulen, menggunakan reagen yang melewati batas kadaluarsa, dan cara pembuatan sediaan preparat tidak sesuai 2x3. Sedangkan faktor eksternal yaitu tenaga laboratorium yang tidak berkopeten.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh data penunjang dari penelitian sebelumnya oleh DARMAWATI pada tahun 2012 dengan judul Peningkatan Efektifitas Pemeriksaan Mikroskopis Sputum Tersangka Penderita Tuberculosis (TBC) Paru yang menyimpulkan bahwa terdapat kenaikan jumlah pasien yang dinyatakan positif dengan perlakuan menggunakan metode kubica (indirect) apabila dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis secara langsung (direct).
Adapun kekurangan dalam menggunakan  metode kubica seperti larutan NALC tidak bisa lewat dari 24 jam karena ada agen-agen mukolitik yang rusak, zat kimia yang digunakan empat macam yaitu NaOH 4%,Na cuitrat 2.9% ,NALC bubuk, PBS, dan tidak umum digunakan hanya laboratorium penelitian yang menggunakan karna sulit didapatkan zat NALC bubuk. Sedangkan kelebihan dari metode kubica yaitu larutan NALC sebagai dekontaminan juga sebagai pencairan,m pencucian sampel (melepaskan mikroorganisme dari sel dan  mukus), memendekan waktu dekontaminasi sehingga mengoptimalkan pemeriksaan BTA, sediaan terlihat lebih bersih karena larutan NALC memecahkan sel-sel epitel maupun sel lainya sehingga sediaan tampak lebih bersih, BTA terkonsentrasi dan mudah ditemukan.









BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.      Pada pembuatan preparat apusan BTA dengan menggunakan mikroskopis langsung (direct) dilakukan dengan cara sampel dahak yang purulen disebarkan diatas kaca sediaan dengan bentuk oval ukuran 2x3 kemudian ratakan dengan gerakan spiral kecil-kecil dan keringkan pada suhu kamar selanjutnya fiksasi diatas Bunsen.
2.      Pembuatan preparat apusan BTA dengan menggunkan metode kubica (indirect) sama dengan menggunakan mikroskopis langsung bedanya pada metode kubica dilakukan dengan menambahkan larutan NALC 1 gr (N-Acetyl-L-cystein + NaOH 4%).
3.      Terdapat perbedaan antara metode mikroskopis langsung (direct) dan metode kubica (indirect) dalam menemukan BTA dimana pada metode kubica (indirect) didapatkan hasil yang lebih bagus.








B.       Saran
1.      Petugas laboratorium sebaiknya menggunakan metode kubica (indirect) pada pemeriksaan TB untuk mendapatkan hasil yang labih bagus lagi.
2.      Masyarakat sebaiknya berhati-hati dan menjaga kesehatan agar terhindar dari penularan bakteri Tuberculosis ini.


















DAFTAR PUSTAKA
Akiko fujiki, 2007. Panduan petugas laboratorium TB di unit pelayanan kesehatan. Jepang. Hal 3,10,11.
Anonim, 2010. Tuberkulosis paru pada masa pengobatan. Sumatra utara. Diakses pada tanggal 20 april 2016 pukul 20.00 wita.
Adi Nur, 2013. Jurnal media analis kesehatan.Makassar. Diakses pada tanggal 21 april 2016 pukul 09.06 wita
Alwi idrus, Sudoyo Aru W, Setiyohadi B, 2009. Buku ajaran ilmu penyakit dalam. EGC Jakarta pusat 10430.Hal : 2232,2233.
Darmawati S, Sinto Dewi S. 2012. Peningkatan efektifitas pemeriksaan mikroskopis sputum tersangka penderita tuberculosis (TBC) paru dibalai pengobatan penyakit paru (BP4) semarang.Http://Jurnal.unimus.ac.id. Diakses pada tanggal 20 april 2016 pukul 20.15 wita.
Departemen kesehatan, 2007. Program penanggulangan TBC, pusat data dan informasi. PT Jakarta.
Erma Lestari, 2005.  Nilai diagnostik pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam metode konsentrasi dibandingkan dengan kultur pada sputum tersangka tuberculosis paru. Universitas diponegoro semarang.https://core.ac. uk/download/files/379/11713049.pdf. Diakses pada tanggal 20 april 2016 pukul 20.22 wita
Kemenkes RI, 2013. Petunjuk teknis manajemen TB anak. PT Jakarta. Hal:2
Kemenkes RI, 2012.  Modul pelatihan pemeriksaan dahak mikroskopis TB. PT Jakarta. Hal:29,30,44,45,46,47,49.
Kemenkes RI, 2011.  Pedoman nasional pengendalian tuberculosis. PT Jakarta
Lyanda Apri.2012. Jurnal tuberculosis Indonesia. Fakultas kedokteran universitas Indonesia Jakarta. Diakses pada tanggal 20 april 2016 pukul 19.25 wita
Meidania Monalisa, 2015.  Penatalaksanaan fisioterapi pada tuberculosis paru dirumah sakit paru ario wirawan salatiga. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses pada tanggal 21 april 09.01 wita
Notoadmojo, S. 2007. Ilmu kesehatan masyarakat dan seni. Jakarta: Rineka Cipta.
Naga S Sholeh, 2012.  Buku panduan lengkap ilmu penyakit dalam. PT Jogjakarta. Hal:312,313.
Syahruni H, 2010.  Analisis hasil pemeriksaan basil tahan asam (BTA) dengan pewarnaan ziehl neelsen dan pemeriksaan serologi metode rapid test TB pada          penderita         suspek  tuberculosis   paru.Universitas HasanudinMakassar.http://repository.unhas.ac.id:4001/digilib/files/disk1/252/--syahrunihi-12585-1-..ok.pdf. Diakses pada tanggal 21 april pukul 09.22 wita
Sylvia R, 2011. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka suspek tuberculosis dipuskesmas perawatan ratu agung. Universitas Bengkulu.http://repository.unib.ac.id/6878/1/laporan%20tb%20upload.pdf. Diakses pada tanggal 21 april pukul 09.27 wita
Ganis   Dr,       2012.   Deteksui          dini      tuberculosis. http://www.slideshare.net/yoshilol/pamflet-tb
Tanwar H, 2014. Bakteriologi I. DIII Analis kesehatan Makassar. Hal:28.
Tanwar H, 2010.  Perbandingan metode dekontaminasi NaOH 4 % dan NALC NaOH dengan pemeriksaan Ziehl Neelsen, kultur Lowenstein Jensen dan PCR pada          suspek  penderita         TB. Makassar.http://repository.unhas.ac.id:4001/digilib/files/disk1/432/--hernikatan-21589-1-hernika-%29.pdf. Diakses pada tanggal 20 april 2016 pukul 20.30 wita
WHO 2012. “Global Tuberculosis Report 2012’’. Word Healt Organization 20        Avenue Appia, 1211-Geneva-27, Switzerland. Tersedia di www.Who.int/-tuberkulosis. Diakses pada tanggal 23 april pukul 15.00 wita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar