Visitor

Selasa, 28 Maret 2017

KARYA TULIS ILMIAH IDENTIFIKASI JAMUR Aspergilus flavus PADA BIJI JAGUNG (Zea mays L) BUSUK DAN SEGAR YANG DIJUAL DI PASAR TERONG KOTA MAKASSAR

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar  Belakang
Bahan pangan karbohidrat yang merupakan bahan pangan pokok yang disimpan digudang maupun yang dijual di pasar tradisional atau swalayan dalam jumlah besar antara lain beras, kacang tanah, kacang hijau, dan jagung disebabkan oleh jamur.  Faktor yang sangat mendukung pertumbuhan jamur pada bahan pangan di Indonesia adalah kondisi iklim seperti curah hujan, suhu, dan kelembaban (Indrawati dkk, 2006).
Jamur dapat menyebabkan berbagai tingkat dekomposisi bahan pangan. Selain itu, jamur dapat tumbuh pada hasil pertanian sebelum dipanen, hasil panen yang sedang disimpan, bahan pangan yang telah diolah maupun yang dijual di pasar.  Bahan pangan yang mengalami dekomposisi oleh jamur dapat membusuk dan bernoda dengan warna tertentu (Tournasdkk, 2001). Spesies utama jamur yang dapat mengkontaminasi bahan pangan antara lain Aspergillus flavus, A. oryzae, A. ochraceus, A. tamarii, Penicillium puberulum, P. Citrinum, P. italicum, P. chrysogenum, P. expansum, A. wentii, Alternaria alternata, A. melleus, A. terreus, dan A. Niger yang mampu memproduksi       zat racun yaitu mikotoksin yang menyebabkan kerusakan pada makanan (Ganjar dkk, 2006).
Fungi (jamur) termaksud dalam phylum Thallophyta. Sebagai besar hidup sebagai saprophytis dan sebagian kecil sebagai parasit pada tumbuhan hewan dan manusia.
Fungi mempunyai dinding sel dan inti yang jelas. Dapat  berupa sel tunggal, misalnya, ragi, atau terdiri atas banyak sel. Yang terdiri atas banyak sel, bentunya memanjang berupa filamen yang disebut  hyphe. Hyphe ini ada yang berseptum ada yang tidak. Bila hyphe ini terus tumbuh dan bercabang-cabang, terbentuklah tumbuhan yang disebut miselium, miselium yang menonjol dari permukaan substrat disebut miselium aerial, miselium menembus kedalam substrat dan yang mengabsorpsi zat makanan disebut miselium vegetatif (Entjang, 2001 )
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar mahkluk hidup eukariotik heterotrof  yang  mencernar makanannya di luar  tubuh lalu menyerap molekul nutrisi kedalam sel-selnya fungi memiliki bermacam-macam  bentuk, sebagian besar anggota fungi sebagai jamur, kapang, atau ragi, fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual, perbanyak seksual dengan cara dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyak aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa, jamur memiliki kotak spora disebut sporangium (Tamher, 2008)
Aspergillus flavus adalah jamur yang bersifat saprofit yang dapat ditemukan di tanah, di udara bebas dan pada bahan pangan. Semua bahan pangan yang mengandung aflatoksin memiliki ambang batas sebesar 30 ppb (partper billion). Cara penyimpanan yang kurang tepat dan banyaknya bahan yang diproses secara tidak baik dapat mempercepat kontaminasi dengan aflatoksin (Edyansyah, 2013).
Beberapa jenis makanan yang terkontaminasi jamur A. flavus yakni pada hasil panen yang  mengandung minyak, misalnya kacang-kacangan, serealia, cabe, biji kapas dan, jagung.
            Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu subtrat yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai jamur diantaranya yaitu Aspergilus flavus. Jagung yang sering dikonsumsi belum terjamin kelayakannya. Penyimpanan yang terlalu lama didalam gudang dapat menimbulkan tumbuhnya spora jamur yang berukuran kecil karena kondisi suhu maupun udara yang  tidak sesuai di tempat penyimpanan. 30% penyakit bersumber  pada makanan terutama bahan makanan pokok (Roesmarkam dan Yuwono, 2002).
 Menurut penelitian Retnowati, dkk (2013) mengatakan pertumbuhan kapang Monascus purpureus,  Aspergillus flavus dan Penicillium sp pada media beras, jagung dan kombinasi beras jagung sangat didominasi oleh A. flavus dengan membentuk simbiosis amensalisme.
Menurut Desy, dkk (2014) pada penelitian identifikasi jamur A. flavus pada biji kacang tanah busuk atau keriput yang dijual di pasar seputaran wilayah Kesiman kecamatan Denpasar Timur ditemukan hasil positif adanya jamur A. flavus sebanyak 11 sampel dengan persentase 37% dan sampel lainnya terkontaminasi jamur A. niger dan A. fumigatus dengan hasil negatif sebesar 63%. Hasil penelitian Amalia (2012 ) yaitu identifikasi jamur A. flavus pada kacang tanah (Arachis hypogaea. L ) yang dijual di Pasar Kodim Pekan baru ditemukan lima sampel kacang tanah yang positif terkontaminasi jamur Aspergillus niger dan A. Fumigatus
Jamur sangat erat kaitannya dengan kehidupan dan kesehatan. Jamur dapat hidup dimana saja bahkan tanpa disadari dalam makanan yang kita konsumsi sekalipun. Hal ini sehubungan dengan meningkatnya penyakit diantaranya keracunan, sakit perut, muntah, kelainan kulit, aspergilious dan lain-lain yang muncul akibat jamur yang terdapat pada makanan. Jagung merupakan komoditas kedua yang dibeli oleh masyarakat sebagai makanan pokok setelah beras. Jagung yang dijual secara langsung di Pasar Terong berasal dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan yang dikirim langsung pasca panen. Sebagian besar jagung disimpan didalam karung yang terikat dan terkadang disimpan selama berhari-hari di dalam gudang. Kondisi suhu yang tidak sesuai sehingga bisa membuat jamur bisa lengket pada jagung tersebut ketika dijual di pasar dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik melakukan penelitian identifikasi jamur A. flavus pada jagung yang dijual di Pasar Terong kota Makassar.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah jagung  (Zea mays L.)  yang dijual di Pasar Terong Kota Makassar terkontaminasi  jamur Aspergillus flavus ?


C.      Tujuan Penelitian
1.      Tujuan umum
Untuk mengidentifikasi jamur Aspergillus flavus  pada jagung  yang  busuk dan segar  yang dijual di Pasar Terong Kota Makassar.
2.      Tujuan khusus
Untuk mengidentifikasi  jamur Aspergillus flavus  pada biji  jagung  yang  busuk dan segar yang disimpan selama 5-6 hari pada media Sabarouth Dextrosa Agar
D.      Manfaat Penelitian
1.      Akademik
Sebagai sumbangsih kepustakaan ilmiah bagi program studi D III Analisis Kesehatan Stykes Mega Rezky Makassar.
2.      Praktisi
Sebagai informasi bagi praktisi laboratorium kesehatan terhadap hasil identifikasi jamur Aspergillus flavus  pada biji  jagung (Zea mays L) yang dijual di Pasar Terong  Kota Makassar.
3.      Masyarakat
Sebagai informasi kepada masyarakat agar lebih teliti dalam menentukan atau memilih jagung (Zea mays L.) yang dijual di Pasar Terong Kota Makassar  yang layak untuk dikonsumsi dan baik bagi kesehatan.
4.      Peneliti
Sebagai khasanah keilmuan yang diaplikasikan dalam suatu Karya Tulis Ilmiah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Tinjauan Umum Tanaman Jagung ( Zea mays L.)
1.      Pengertian
Jagung (Zea mays L) merupakan tanaman semusim (Annual Plants). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80 – 150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif, dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya memiliki ketinggian antara 1 meter sampai 3 meter, namun ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6 meter. Tinggi tanaman bisa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan (Suprapto, 2001).
Jagung (Zea mays L) adalah termasuk tanaman monokotil (tumbuhan berbiji tunggal) sehingga perakarannya pun tergolong akar serabut yang kedalamannya dapat mencapai 8 meter, meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 meter. Batang tanaman jagung tegak dan mudah terlihat, seperti sorgum dan tebu (Suprapto, 2001).
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Ligula ini berbulu dan berlemak, fungsi ligula adalah mencegah air masuk kedalam kelopak daun dan batang, tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut (Purwono dan Hartono, 2006).
Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam  pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik. Tanaman jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (Monoecious). Bunga betina berwarna putih panjang dan biasa disebut rambut jagung. Bunga betina dapat menerima tepung sari disepanjang rambutnya. Tiap kuntum memiliki struktur khas bunga dari suku Poeceae yang disebut flore. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh dibagian pucuk tanaman berupa karangan bunga (Inflorescence), serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, diantara batang dan 8 pelepah daun (ketiak daun). Bunga jantan cenderung siap untuk penyerbukan 2–5 hari lebih dini dari bunga betinanya (Protandri). Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan jatuh dan menempel pada rambut tongkol (bunga betina). Pada jagung umumnya terjadi penyerbukan silang (Cross pollinated crop).  Penyerbukan terjadi dari serbuk sari tanaman lain. Sangat jarang penyerbukan yang serbuk sarinya dari tanaman sendiri (Purwono dan           Hartono, 2006).
Tanaman jagung (Zea mays L) mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Varietas Hibrida Bisi Dua rata–rata memiliki 2 tongkol. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelebot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10–9 dan             16 baris biji jagung yang terdiri dari 200 – 400 butir biji jagung. Biji jagung terdiri dari tiga bagian. Bagian paling luar disebut pericrap. Bagian atau lapisan kedua yaitu endosperm yang merupakan cadangan makanan biji. Sementara bagian paling dalam yaitu embrio atau  lembaga (Purwono dan Hartono, 2006).
2.        Manfaat Jagung (Zea mays L)
Jagung merupakan tanaman sumber bahan pangan pokok bagi sebagian masyarakat, selain gandum, padi atau beras. Jagung kaya akan karbohidrat. Kandungan karbohidrat yang terkandung dalam jagung dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji jagung. Karbohidrat itulah yang dapat menambah atau memberikan asupan kalori pada tubuh manusia, yang merupakan sumber tenaga sehingga jagung dijadikan sebagai bahan makanan pokok (Mubyarto, 2012).
Menurut (Mubyarto, 2012) manfaat jagung sebagai berikut :
1)      Buahnya merupakan sumber karbohidrat bagi manusia sebagai salah satu sumber pangan pokok.
2)      Daunnya dapat digunakan untuk pakan ternak kambing, sapi, maupun kerbau.
3)      Batangnya yang sudah kering dapat digunakan untuk kayu bakar.
4)      Kulit dari buah jagung dapat digunakan sebagai pengganti kertas sigaret pada rokok, serta dapat digunakan sebagai bungkus makanan kecil seperti dodol.
5)      Buahnya dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, seperti nasi jagung, jagung bakar, berondong (popccorn), dan juga sebagai pakan ternak.
3.        Klasifikasi tanaman jagung
Kingdom              : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio                  : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub Divisio          : Angiospermae (berbiji tertutup)
Classis                  : Monocotyledone (berkeping satu)
Ordo                     : Graminae (rumput-rumputan)
Familia                 : Graminaceae
Genus                   : Zea

Species                 : Zea mays L. (Mubyarto, 2012).

Gambar 2.1. Tanaman Jagung (Mubyarto, 2012).
A.    Tinjauan umum jamur
1.    Pengertian jamur (fungi)
Mikologi (mykes dan logos) : ilmu yang mempelajari tentang jamur. Jamur merupakan organisme protista eukariotik, khemoheterotrof, reproduksi secara seksual dan atau aseksual, struktur vegetatif berupa sel tunggal atau berfilamen.
Mikologi ialah telah mengenai protista eukariotik nonfotosintetik yang
disebut fungi. Fungi atau jamur (cendawa) adalah organisme heterotrofik mereka memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organik mati yang terlarut, mereka disebut saprofit. Saprofit  menghancurkan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks, menguraikannya menjadi zat-zat kimia yang lebih sederhana, yang kemudian di kembalikan kedalam tanah, dan selanjutnya meningkatkan kesuburannya jadi sangat menguntungkan bagi manusia, sebaliknya juga dapat merugikan kita bilamana mereka membusukkan kayu, tekstil, makanan, dan bahan-bahan lain, pada manusia dan hewan sebagai “primary pathogen” maupun “opportunistic pathogen”, juga dapat menyebabkan alergi dan keracunan.
Umumnya jamur penyebab penyakit hanya dapat dilihat melalui mikroskop, jamur tumbuh subur ditempat lembab, itulah sebabnya jamur banyak hidup di indonesia. (Irianto, 2014)
        Menurut (Sukarminah, 2008), jamur merupakan mahluk hidup berbentuk sel atau benang bercabang mempunyai dinding dan kitin atau keduanya mempunyai prortoplasma yang mengandung satu atau lebih inti. Tidak memmpunyai klorofil dan berkembang biak secara seksual, aseksual atau keduanya.

2.    Sifat umum jamur
a.         Termaksud protista eukariotik
b.         Khemoheterotrof dan khemoorganotrof
c.         Saprofit atau parasit
d.        Struktur vegetatif berupa uniseluler (yeast-khamir) atau multiseluler/berfilamen (mold-kapang,cendawa)
e.         Reproduksi seksual dan aseksual
3.    Karakteristik jamur
1.        Yeast (khamir):
1)    Uniseluler
2)    Non filamentous, membentuk pseudohifa
3)    Bentuk oval/spheris
4)    Umumnya non motil
5)    Reproduksi aseksual:  pembelahan (fission) dan seksual
6)    Facultative  anaerob.
2.    Kapang (molds)
1)      Multiseluler
2)      Reproduksi seksual dan aseksual
3)      Berfilamen / benang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium
Macam / tipe hifa:
a.         Hifa non septa ( ceonocytic ) : hifa tidak bersepta
b.        Hifa bersepta (acoenocytic)  uninucleate ( 1 inti ) atau multinucleate (banyak inti)
c.         Hifa vegetatif : hifa yang berfungsi untuk nutrisi
d.        Hifa reproduksi atau aerial hifa : hifa yang berfungsi untuk reproduksi / pembentuk spora.
e.         Pseudohifa : kuncup membentuk sel rantai pendek
2.    Demorfik
1)        Mempunyai 2 bentuk pada pertumbuhannya, yaitu pada bentuk   kapang dari hifa vegetatif dan aerial hifa sedangkan bentuk khamir dari budding.
2)        Banyak terdapat pada jamur pathogen
3)        Dipengaruhi oleh suhu 37°C sebagai bentuk khamir dan pada suhu 25°C sebagai bentuk kapang
3.        Cendawan
1.        Merupakan jamur tingkat tinggi tersusun sebagai talus
2.        Umumnya makroskopik
3.        Menghasilkan mikotoksin
4.    Reproduksi
    Ada dua macam cara reproduksi yaitu :
1.      Aseksual, secara fission (pembelahan), budding (kuncup), pembentukan spora aseksual
2.      Seksual , secara fusi (peleburan nukleus dari dua gamel, induk dan menghasilkan spora seksual melalui 3 fase yaitu:
1)   Plasmogami : nukleus haploid dari sel donor (+) penetrasi ke sitoplasma sel resiplen (-)
2)   Karyogami : inti (+) dan (-) berfungsi membentuk zygot inti diploid
3)   Meiosis : inti diploid menghasilkan inti haploid ( spora seksua ) dan beberapa rekombinan genetik.
Adanya reproduksi seksual dan aseksual maka jamur mempunyai siklus hidup (life cycle), jamur yang menghasilkan spora sexual dan asexual disebut teleomorphs, sedangkan jamur yang menghasilkan spora asexual saja disebut anamorphs.
Macam-macam spora aseksual:
a)        Conidiaspora-conidia (tunggal:conidium)
b)        Sporangiumspora: spora yang dibentuk dalam sporangium
c)        Oidia (tunggal:oidium) = arthospora: spora hasil   fragmentasi hifa
d)       Klamidospora: spora aseksual berdinding tebal
e)        Blastospora : spora pembentukan budding
Macam-macam spora seksual
a)        Ascospora : spora yang dibentuk dari ascus
b)        Basidiospora : spora yang dibentuk dari basidium
c)        Zygospora : spora berdinding tebal hasil fusi gametangia
d)       Oospora : spora hasil pembentukan oogonium dan anteridium

5.    Fisiologi
1)      Habitat : pada lingkungan kadar gula tinggi (osmofilik) dan pH asam / asidofil kira-kira pH 5
2)      Yeast bersifat facultative (aerob dan anearob), kapang bersifat aerob
3)      Punya kisaran suhu pertumbuhan yang luas : saprofit (22-30 °C), pathogen (30-37 °C)
4)      Khemoheterotrof, umumnya butuh kadar gula 4%
5)      Tumbuh baik pada substansi dengan kelembaban rendah
6)      Membutuhkan sumber N lebih sedikit dibandingkan bakteri
( Harti, 2014)
6.    Klasifikasi jamur
           Penanaman dalam taksonomi fungi selalu berubah-ubah seiring dengan perkembangan dan  hasil penelitian terakhir yang berdasarkan sifat morfologi dan teori biologi. Dengan demikian, dalam dunia fungi belum ada sistem taksonomi yang seragam, penyebutan pada setiap taksa sering berubah, spesies fungi dapat memiliki beberapa nama ilmia bergantung dari cara siklus hidup dan reproduksinya. Devisi atau fila yang diklasifikasi berdasarkan stuktur alat perkembangbiakan seksualnya (Subandi, 2010)
Berdasarkan cara reproduksi, terbagi atas 2 kelompok
a.  Jamur perfect (perfect fungi): jamur melakukan reproduksi aseksual dan seksual
b. Jamur inperfect (impperfect fungi): jamur melakukan reproduksi aseksual saja
 Jamur tebagi 4 klas jamur sejati (true atau filamentous fungi) dalam   kingdom fungi yaitu
a.     Phycomycetes
b.    Ascomycetes
c.     Basidiomycetes
d.    Deuteromycetes
7.    Peranan Jamur
a.       Menguntungkan, contoh:
a)    Bidang industri, contoh:
      Saccharomyces elipsoides         gliserol  
      Saccharomyces cerevisiae        fermentasi alkohol
      Aspergillus niger        sintesa asam sitrat, asam oksalat
      Monascus purpureus       produksi angkat (zat warna merah)
b)    Produk antibiotik, contoh: penicillium notatum dan P.            Chrysogenum         penisilin
c)    PST (Protein Sel Tunggal) = SCP (Single Cell Protein) contoh Torulopsis utilis
d)   Penghasil enzim selulase untuk menghilangkan dinding sel tumbuhan menghailkan cairan buah yang jernih.
Neurospora sitophila   = oncom
Aspergillus oryzae       = kecap, oncom
Zymomonas mobilis    = tape, tuak
Saccharomyces cerevisiae = tape
e)     Decomposter  selulosa tanaman : Trichoderma viride
f)    Jamur simbiotik tanaman disebut mycorhizae pada akar untuk absorbsi mineral dan air dari tanah
b.      Merugikan , contoh:
a)    Reaksi hipersensitivitas: spora sebagai allergen
b)   Mikosis: infeksi oleh jamur patogen
c)    Mikotoksikosis: intoksikasi oleh jamur
d)   Misertismus: keadaan sakit akibat mengkonsumsi jamur beracun
e)    Kerusakan pangan: menyebabakan kebusukan pangan dan  perubahan secara organolepti seperti perubahan konsistensi, timbulnya gas, bau asam, berlendir.
8.    Macam-macam jamur penting secara medis
1)   Zygomycetes = phycomycetes
1)        Disebut conjugation fungi atau jamur saprofit
2)        Mempunyai hifa coenocytic
3)        Habitat pada udara, tanah, pada hewan dan makanan
4)        Reproduksi sexual (fusi sederhana 2 hifa multinucleat)
 Menhhasilkan spora sexual (zygospora) dan asexual (pembentukan sporangispora)
5)        Ada yang bersifat patogen oportunistik yaitu tidak menyebabkan penyakit pada orang yang sehat tetapi menyebabkan mikosis pada host tertentu
6)        Contoh : Rhizopus nigricans sebagai jamur roti, mucor sp Absidia sp.
2)   Ascomycetes
1)           Sebagai besar saprofit dan jarang pada tanaman
2)           Reproduksi aseksual dengan membentuk konidia
3)           Reproduksi sexual dengan pembentukan acospora
4)           Contoh
1.      Piedraia hortai penyebab mikosis piedra hitam
2.      Saccharomycescerevisioe dalam fermentasi alkohol
3.      Candida albicans penyebab candidiasis
3)   Basidiomycetes
1)        Dikenal sebagai cendawan (jamur tingkat tinggi), sebagai badan buah
2)         Reproduksi sexual menghasilkan basidiospora dari basidium.
1.      Volvarea (jamur kancing = mushroom)
2.      Auricularia auricula (jamur kuping)
3.      Cryptococus neoformans penyebab cryptococcosis
4.    Deuteromycetes

1)   Tidak terdapat reproduksi sexual, hanya reproduksi asexual
2)    Spora asexual konidia (makrokonidia)
3)    Sebagai patogen menyebabkan mikosis
        Contoh :
1.     Aspergillus flavus penghasil aflatoksin
2.     Aspergillus funigatus penyebab aspergillosis
3.     Blstomyces sp penyebab blastomikosis
4.     Histoplasma capsulatum penyebab histoplasmosis
5.    Jamur lendir = jamur tidak sejati = slime molds

1)        Kelompok mikrob heterogenous bersifat seperti hewan dan tumbuhan
2)        Aseluler, tidak mempunyai bentuk tetap yaitu fase vegetatif seperti hewan secara stuktur dan fisiologi tetapi fase generatif seperti tumbuhan yaitu menghasilkan spora
3)        Ada 4 tipe jamur lendir yaitu:
1.      Myxomycetes (true atau plasmodial slime mold)
2.      Plasmodiophoromycetes (endoparasitic slime mold)
3.      Labyrinthulales (net slime molds)
4.      Acrasiales (cellular slime molds)
9.                  Mycosis, Mikotoksikosis, dan Misetismus
a.       Mycosis
a)    Merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur
b)    Biasanya infeksi kronis (long-lasting) karena jamur tumbuh lambat
c)    Terbagi atas 5 kelompok berdasarkan tingkat jaringan yang terlibat dari cara masuk pada host yaitu mikosis :
a.       Sistemik
a)      Mikosis yang terjadi pada sejumlah jaringan organ
b)    Biasanya disebabkan oleh jamur geofilik (tanah)
c)     Transmisi melalui spora yang terhinsalasi lalu keparu-paru menyebar kejaringan tubuh lain.
d)    Contoh: Histoplasmosis, Crytococcocis
b.      Sub cutaneous
a)    Mikosis yang terjadi dibawa kulit oleh jamur saprofitik   geofilik (tanah)
b)   Infeksi terjadi secara langsung dengan implantasi spora atau       fragmen miselia luka pada kulit
c.       Cutaneous =dermatomycosis
a)    Mikosis yang terjadi pada epidermis, rambut, dan kuku
b)   Disebabkan oleh jamur Dermatophyta yang menseksresikan keratinase
c)    Transmisi dari manusia (antrofilik) ke manusia atau tumbuhan
d)   Contoh mikosis: Tinea capitis, tinea manum, tinea pedis, tinea favosa, tinea barbae, tinea cruris
d.      Superficial
a)    Mikosis pada batang rambut dan permukaan/ super fisialis
b)   Umumnya terjadi di iklim tropis
c)    Etiologi jamur non Dermatophyta
d)   Contoh mikosis: tinea axilaris, tinea versicolor / panu, piedra putih, onichomycosis.
e.       Opportunistik
a)    Bersifat apatogen pada habitat normal, mnjadi patogen bila ada faktor predisposisi (terapi antibiotik spektrum luas dalam jangka waktu lama, imunosupresive)
b)   Contoh mikosis: Mucormycosis, aspergillosis, candiasis.
b.      Mikotoksikosis
a.       Terjadi karena tertelannya mikotoksin (toksin jamur) ekstraseluler
b.      Contoh: Aspergillus flavus penghasil alfatoksin
c.         Misetismus
a.       Terjadi akibat mengkonsumsi jamur beracun (jamur dan toksin jamur
b.      Contoh: Amonitus muscaria penghasil aminitis (Hartati, 2012)
10.    Struktur dan Morfologi jamur
          Jamur berkembang biak secara vegetative dan generative dengan berbagai macam spora. Macam spora yang terjadi tanpa perkawinan:
a.       Koloni adalah kumpulan jamur sejenis yang terdapat pada ruangan yang sama.
b.      Hifa merupakan benang-benang (filament) yang terdiri dari komponen dinding sel, cairan sel (protoplasma) dan inti (nucleus pada umumnya hifa mempunyai sekat/septa).
c.       Spora adalah protoplasma dalam suatu sel tertentu berkelompok-kelompok kecil masing-masing mempunyai membran serta inti sendiri. Sel tempat terjadinya spora ini disebut sporangium dan sporanya disebut sporangispora. Kebanyakkan  spesies jamur dapat berkembang biak secara vegetative maupun secara generative. Pembiakan secara generative atau seksual di lakukan dengan sigamet atau dengan heterogamet (anisogamet).
d.      Khamir  (yeast) merupakan fungi bersel satu, tidak berfilamen, berbentuk oval atau bulat, tidak berflagela dan berukuran besar dibandingkan bakteri. Sedangkan kapang (mold) tubuhnya dibedakan menjadi dua bagian yaitu miselium dan spora (Dwidjoseputro, 2003).
11.    Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur
a.      Substrat
Substrat merupakan sumber nutrien utama bagi fungi.           Nutrien–nutrien baru dapat dimanfaatkan sesudah fungi mengekskresi enzim-enzim ekstraseluler yang dapat mengurai senyawa-senyawa kompleks dari substrat tersebut menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Fungi yang tidak dapat menghasilkan enzim sesuai komposisi substrat dengan sendirinya tidak dapat memanfaatka nutrien-nutrien dalam substrat tersebut.
b.        Kelembapan
Faktor ini sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Pada umumnya fungi tingkat renda seperti Rhizopus atau Mucos memerlukan lingkungan dengan kelembapan nisbi 90% dan kapang Aspergillus, Penicillium, jamur lainnya dapat hidup pada kelembapan nisbi yang rendah, yaitu 80%.
c.       Suhu
Berdasarkan kisaran suhu lingkungan yang baik untuk pertumbuhan, fungi dapat kebanyakan fungi kelompokkan sebagai fungi psikrofil, mesofil, secara umum pertumbuhan untuk fungi adalah sekitar 25-30 °C. Beberapa jenis fungi bersifat psikrotrofik yakni dapat tumbuh baik pada suhu lemari es dan ada fungi yang masih bisa tumbuh       secara lambat pada suhu dibawah suhu pembekuan, misalnya 5 °C sampai -10 °C.
d.        Derajat keasaman (pH)
pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan fungi, karena enzim-enzim tertentu hanya akan  mengurai suatu substrat sesuai dengan aktivitasnya pada Ph tertentu. Umumnya fungi menyenangi pH di     bawah 7,0.
e.       Senyawa kimia
          Selama pertumbuhannya fungi menghasilkan senyawa-senyawa yang  tidak diperlukannya lagi dan dikeluarkan ke lingkungan. Senyawa-senyawa tersebut merupakan suatu pengamanan bagi dirinya terhadap serangan oleh organisme lain termasuk terhadap sesama mikroorganisme. (Ganjar, 2006).


B.     Tinjauan Umum Aspergilus flavus
          Aspergillus  flavus merupakan  saprofit dan parasit. Aspergillus mempunyai konedium dibagian ujungnya dan mempunyai hifa bersekat serta bersepta.          Aspergillus flavus pada sistem klasifikasi yang terdahulu merupakan spesies kapang yang termasuk dalam divisi Tallophyta, sub-divisi Deuteromycotina, kelas kapang Imperfecti, ordo Moniliales, famili Moniliaceae dan genus Aspergillus. Aspergillus flavus memerlukan temperatur yang lebih tinggi, tetapi mampu beradaptasi pada aw  (water activity) yang lebih rendah dan mampu berkembang lebih cepat bila dibandingkan dengan Penicillium. Aspergillus  flavus merupakan jamur saprofit di tanah yang umumnya memainkan peran penting mendaur ulang nutrisi yang terdapat dalam sisa-sisa tumbuhan maupun binatang. A. flavus ditemukan pada biji-bijian yang mengalami deteriorasi mikrobiologis selain menyerang segala jenis substrat organik dimana saja dan kapan saja jika kondisi untuk pertumbuhannya terpenuhi. Kondisi ideal tersebut mencakup kelembaban udara yang tinggi dan suhu yang tinggi (Miskiyah, 2003).
a.    Sifat Pertumbuhan
            Aspergillus flavus bersifat aerobik dan ditemukan di hampir semua lingkungan yang kaya oksigen, dimana mereka umumnya tumbuh sebagai jamur pada permukaan substrat, sebagai akibat dari ketegangan oksigen tinggi, habitatnya adalah di daerah yang lembab dan dapat hidup pada buku, kayu dan pakaian, dapat hidup di daerah tropis dan substropis tergantung pada kondisi lingkungan. Jamur ini tumbuh sebagai mikroba pada berbagai macam bahan organik, sepert roti, olahan daging, butiran padi, kacang-kacangan, makanan dari beras dan kayu  (Miskiyah, 2003).
Sifat morfologis Aspergillus flavus yaitu bersepta, miselia bercabang biasanya tidak berwarna, konidiofor muncul dari kaki sel, sterigmata sederhana atau kompleks dan berwarna atau tidak berwarna, konidia berbentuk rantai berwarna hijau, coklat atau hitam. Tampilan mikroskopis Aspergillus flavus memiliki konidiofor yang panjang (400-800 μm) dan relatif kasar, bentuk kepala konidial bervariasi dari bentuk kolom, radial, dan bentuk bola, hifa berseptum, dan koloni kompak. Koloni dari Aspergillus  flavus umumnya tumbuh dengan cepat dan mencapai diameter 6-7 cm dalam 10-14 hari. Aspergillus flavus memiliki warna permulaan kuning yang akan berubah menjadi kuning kehijauan atau coklat dengan warna inversi coklat keemasan atau tidak berwarna, sedangkan koloni yang sudah tua memiliki warna hijau tua dengan Rh minimum untuk pembentukan aflatoksin sebesar 83% (aw minimum pembentukan aflatoksin = 0,83). Rh minimum untuk pertumbuhan dan germinasi spora adalah 80% dan Rh mininum untuk sporulasi adalah 85%. Kenaikan suhu, pH, dan persyaratan lingkungan lainnya akan menyebabkan aw minimum bertambah tinggi. Temperatur yang optimal untuk pertumbuhan Aspergillus  flavus berkisar pada 30°C dengan Rh ≥ 95%. Secara umum Aspergillu  flavus adalah organisme aerobik sehingga gas O2 dan N2 akan menurunkan kemampuannya untuk membentuk aflatoksin. Efek penghambatan oleh CO2 dipertinggi dengan menaikkan suhu atau menurunkan Rh dengan kadar O2 minimum 1% untuk pertumbuhan. Perlakuan dan analisis yang tepat sangat dibutuhkan untuk mencegah penurunan produksi aflatoksin dalam lingkungan laboratorium (Anonim B, 2008).
Ciri makroskopik jamur Aspergillus flavus memiliki karateristik warna hijau kekuningan, permukaan  seperti kapas, tidak terdapat garis-garis radial atau kosentris dan tidak terdapat tetes eksudat (Gandjar dkk, 2006).
Ciri mikroskopik menunjukan bahwa koloni A. flavus memiliki kepala konidia bulat yang merekah menjadi beberapa kolom, konidiofor berwarna hialin dan kasar, vesikula berbentuk bulat, konidia berbentuk bulat dan berduri (Gandjar dkk, 2006).
Jamur Aspergillus  flavus menghasilkan koloni yang berwarna kuning hijau atau kuning abu-abu hingga kehitaman. Konidiofornya tidak berwarna, kasar, bagian atas agak bulat serta konidia kasar dengan bermacam-macam warna. Makanan yang kita makan mudah sekali dihinggapi Aspergillus flavus (Nurul, 2010).

a.      Toksin yang Dihasilkan
Aspergillus  flavus menghasilkan  Mikotoksin sebagai metabolit sekunder dan merupakan senyawa toksik yang dapat mengganggu kesehatan manusia dalam bentuk mikotoksikosis. Aspergillus flavus sebagai penghasil utama aflatoksin umumnya hanya memproduksi aflatoksin B1 dan B2. Aflatoksin memiliki tingkat potensi bahaya yang tinggi dibandingkan dengan mikotoksin lain (Suryadi dkk, 2005).
Aflatoksin B1 merupakan salah satu senyawa yang dapat menjadi penyebab terjadinya kanker pada manusia. Aflatoksin B1 berpotensi karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan bersifat imunosupresif.  Metabolisme aflatoksin B1 dapat menghasilkan aflatoksin M1, sebagaimana terdeteksi pada susu sapi yang pakannya mengandung aflatoksin B1 (Lanyasunya dkk, 2005). Aflatoksin B1 bersifat paling toksik (Wrather dan Sweet, 2006).
Alfatoksin dihasilkan oleh Aspergillus flavus dan Aspergillus parasitcus dan menyebabkan Turkey X disease pada awal tahun 1960 di inggris. Sering ditemukan dalam kacang dan jagung. Toksin dapat merusak hepar dan menyebabkan kanker hepar (Irianto, 2014)

b.        Penyakit
Aspergillus flavus menyebabkan penyakit dengan spektrum luas pada manusia, mulai dari reaksi hipersensitif hingga infeksi invasif yang diasosiasikan dengan angioinvasion. Sindrom klinis yang diasosiasikan dengan kapang tersebut meliputi granulomatous sinusitis kronis, keratitis, cutaneous aspergillosis, infeksi luka, dan osteomyelitis yang mengikuti trauma dan inokulasi. Sementara itu, Aspergillus flavus cenderung lebih mematikan dan tahan terhadap anti fungi dibandingkan hampir semua spesies Aspergillus yang lainya. Penderita dengan penyakit paru kronis (terutama asthma, juga penyakit gangguan paru kronis atau “cystic fibrosis”) dan penderita yang alergi terhadap jamur ini dapat menyebabkan kerusakan bronchus dan penyumbatan bronchus intermiten. Keadaan ini disebut sebagai allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA) (Amalia, 2012).
Berbagai bentuk perubahan klinis dan patologis mikotoksikosi ditandai dengan gejala muntah, sakit perut, paru-paru bengkak, kejang, koma, dan pada kasus yang jarang terjadi dapat menyebabkan kematian. Aflatoksin yang berbahaya ini dapat mempengaruhi mekanisme kerja hati manusia, mamalia, maupun unggas sehingga menjadi faktor penyebab kanker hati             (Edyansyah, 2013).
c.                Klasifikasi Aspergillus flavus
Kingdom  :  Fungi
Phylum    :  Ascomycota
Class        :  Eurotiomycetes
Family     :  Trichocomaceae
Genus      :  Aspergillus
Species    :  Aspergillus flavus (Miskiyah, 2003).
A.      Kerangka Konseptual
Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia dan hewan. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup memadai sebagai bahan makanan pokok pengganti beras. Selain sebagai makanan pokok, jagung  juga merupakan bahan baku makanan ternak (Mubyarto, 2002).
Aspergillus flavus merupakan kapang saprofit di tanah yang umumnya memainkan peranan penting sebagai pendaur ulang nutrisi yang terdapat dalam sisa-sisa tumbuhan maupun binatang. Aspergillus flavus tersebut jugaditemukan pada biji-bijian yang mengalami deteriorasi mikrobiologis selain menyerang segala jenis substrat organik dimana saja dan kapan saja jika kondisi untuk pertumbuhannya terpenuhi. Kondisi ideal tersebut mencakup kelembaban udara yang tinggi dan suhu yang tinggi (Miskiyah, 2003). Pertumbuhan A. flavus memerlukan kondisi habitat yang mempunyai kelembaban yang tinggi serta tersedianya oksigen yang cukup untuk kelangsungan hidupnya.
Penyiapan inokulum dan media. Medium PDA (Potato Dextrosa Agar) miring sebagai media tumbuh kapang, kemudian diinokulasi masing-masing 2–3 ose miselium Monascus purpureus, Aspergillus flavus dan Penicillium sp. Selanjutnya di inkubasi pada suhu 25–300 C selama 16-20 hari. Beras, jagung dan kombinasi beras-jagung sebagai medium pertumbuhan kapang masing-masing sebanyak 25 gram disterilkan dalam Autoclave pada suhu 1210C selama 15 menit (Retnowati, dkk, 2013).
Pertumbuhan A. flavus dapat dilihat pada pemeriksaan laboratorium secara mikroskopis sehingga dapat digambar sebagai berikut.


BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan observasi laboratorium yang bersifat deskriftif yaitu melakukan uji laboratorium untuk mengetahui keberadaan jamur Aspergilus flavus pada biji jagung (Zea mays L.) yang di jual dipasar terong kota Makassar.
B.  Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi dalam  penelitian ini adalah 2 buah sampel jagung (Zea mays L.) yang busuk dan segar yang dijual di Pasar Terong kota Makassar
2.    Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah 5 biji jagung (Zea mays L.) busuk dan 5 biji jagung segar yang dijual di Pasar Terong kota makassar
3.    Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah Non Rondom Sampling
C.    Variabel Penelitian
1.    Variabel bebas (Dependent)
Variabel bebas pada penelitian ini adalah jamur Aspergillus flavus.
2.    Variabel terikat (Independent)
Variabel terikat pada penelitian ini adalah jagung (Zea mays L.)


D.  Definisi Operasional
1.    Jagung (Zea mays L.) adalah salah satu tanaman penghasil karbohidrat yang terpenting didunia..
2.    Jamur Aspergillus flavus adalah mikroorganisme yang termasuk golongan eukariotik dan tidak termasuk golongan tumbuhan
3.    Identifikasi jamur adalah menentukan ada atau tidaknya hasil dalam suatu penelitian
4.    Media Sabaroud Dextrosa Agar adalah salah satu jenis media yang digunakan untuk menumbuhkan jamur
E.  Waktu dan Tempat Penelitian
1.    Waktu penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan  pada tanggal  21-28 Juni 2016
2.    Tempat penelitian.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Stykes Mega Rezky Makassar
F.       Tehnik Pengumpulan Data
Data diperoleh dengan cara melakukan observasi  langsung ke Pasar Terong, kemudian melakukan eksperimen di Laboratorium Stykes Mega Rezky Makassar
G. Alat dan Bahan
1.    Alat :
Alat yang digunakan yaitu Petridist, Lampu bunsen, Timbangan analitik,  Erlenmeyer 100 ml, Oven, Pipet tetes steril, Korek api, Tissue, Label, Kertas, Mikroskop, objek glass, Deck glass, Ose cincin, dan Autoclave.
2.    Bahan :
Bahan yang digunakan yaitu jagung, SDA (Saboroud Dextrosa Agar), Laktofenol Cotton Blue dan NaCl 0,9 %
H.    Prosedur Kerja
1.    Tahap Persiapan
2)   Sterilisasi alat dan bahan
a.    Dicuci alat sampai bersih lalu dikeringkan
b.    Alat tersebut dibungkus dengan kertas
c.    Dimasukkan ke dalam autoclave  pada suhu 170  ͦ C selama 1 jam
d.   Setelah itu dikeluarkan dari autoclave
3)      Pembuatan Media
a.    Ditimbang media Sabaroud  Dextrosa Agar 2,6 gram, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml.
b.    Ditambahkan aquadest 40 ml
c.    Kemudian dipanaskan di atas water bath sampai mendidih
d.   Sterilisasi media
e.    Setelah itu diambil media Sabaroud Dextrosa Agar dan dituangkan ke dalam masing – masing petridish steril kira-kira      20 ml
f.     Kemudian didiamkan sampai media memadat
g.    Setelah itu dimasukan media ke lemari pendingin 1x24 jam
2.      Tahap Pelaksanaan
1)      Cara Kerja
a.    Direndam 5 biji sampel  jagung busuk dan segar kedalam larutan NaCl 0,9 % Selama 10 menit secara terpisah
b.    Dimasukkan 5 biji jagung tersebut kedalam masing-masing cawan petri yang telah berisi media SDA dengan cara ditekan menggunakan pincet
c.    Kemudian di inkubasi selama 5-6 hari dan diamati bila ada pertumbuhan  koloni jamur
d.   Kemudian biakan tersebut diperiksa untuk membuktikan apakah koloni tersebut mengandung jamur Aspergillus flavus dengan cara:
a)      Disiapkan objek glass yang steril
b)      Diambil sampel dengan menggunakan ose bersih
c)      Diletakkan di atas objek glass, lalu ditambahkan larutan Lactofenol cotton blue 0,3%
d)     Ditutup dengan menggunakan deg glas kemudian dibaca dengan  menggunakan  mikroskop dengan  lensa objektif 10x dan 40x
4.      Analisa Data
Analisa data pada penelitian ini secara deskriptif disajikan dalam bentuk tabel disertai narasi.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian Laboratorium
Berdasarkan hasil penelitian dari 2 sampel jagung yang dijual di Pasar Terong kota Makassar yang dilakukan pada tanggal 21-28 juni 2016 di Laboratorium Stikes Mega Rezky Makassar maka diperoleh hasil pemeriksaan pada tabel berikut :
Tabel 1.1 Hasil Pemeriksaan Sampel Jagung Busuk dan Jagung Segar Secara Kultur.
NO
Kode sampel
Hasil
Jenis jamur
      Ciri-ciri jamur
1.
A
+
Aspergillus flavus,
Macro : Jamur Aspergillus flavus ini memiliki bentuk koloni yang berwarna hitam dan memiliki bulu dasar berwarna putih
Micro : Jamur ini terlihat hifa bersepta, memiliki konidiofor dan kepala konida  dan relative kasar
2.
B
     -
Tidak ada jamur
-

         Ket :   
                Sampel A (jagung busuk) = positif jamur Aspergillus flavus
    Sampel B (jagung segar)  = negative tidak terdapat jamur Aspergillus flavus


B.     Pembahasan
 Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya jamur Aspergillus flavus pada biji jagung yang dijual di pasar terong kota Makassar. Dari penelitian yang dilakukan dengan mengambil sampel jagung sebanyak 2 buah yang terdiri dari jagung busuk dan jagung  segar yang kemudian dimasukkan ke dalam kantung yang steril dan dibawah langsung ke Labaoratorium Stykes Mega Rezky Makassar untuk diperiksa.
Identifikasi jamur pada jagung ini dilakukan dengan metode kultur dan menggunakan media Sabaroud Dexrousa Agar (SDA). Penggunaan media SDA bertujuan untuk menumbuhkan jamur yang akan ditanam karena media SDA dibuat khusus yaitu untuk pertumbuhan jamur dan sangat baik untuk pertumbuhannya. Media ini tidak mendukung untuk pertumbuhan bakteri karena mengandung antibiotic kloramphenicol sehingga  untuk memudahkan dalam pemeriksaan mikroskopis.
Koloni yang tumbuh pada media SDA telah nampak jamur pada permukaan media, setelah koloni tumbuh diambil koloni dari media menggunakan ose yang telah di fiksasi, kemudian diletakan pada objek glass yang sudah ditetesi 1-2 tetes Laktofenol cotton Blue yang berfungsi untuk mengawetkan  preparat dan  mewarnai jamur menjadi biru. Kemudian preparat ditutup dengan menggunakan deg glass lalu diperiksa  dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x, untuk melihat bentuk spora jamur. Dari hasil pemeriksaan ditemukan jamur Aspergillus flavus pada sampel biji jagung busuk
         Jamur Aspergillus flavus yang ditemukan pada jagung busuk mempunyai ciri-ciri makroskopik yaitu berwarna hitam dan memiliki bulu dasar berwarna putih sedangkan pada mikroskopik yaitu terlihat hifa bersepta, memiliki konidiofor yang panjang dan relative kasar konidia batang, untuk jamur Aspergillus flavus, Hal ini sesuai dengan peneliti (Nur. A 2013) mengatakan jamur Aspergillus flavus menghasilkan koloni yang berwarna kuning hijau atau kuning abu-abu hingga kehitaman. Konidiofornya tidak berwarna , kasar, bagian atas agak bulat serta konidia kasar dengan bermacam-macam warna.
Aspergillus flavus adalah salah satu jenis jamur yang sering mengkontaminasi makanan, jamur jenis ini dapat menyebabkan infeksi Aspergillosis dengan gejalah seperti demam, sakit kepala, menggigil, peningkatan produksi lender hidung, batuk penurunan berat badan, sakit pada bagian dada, nyeri tulang dan penglihatan berkurang. Aspergillus flavus juga merupakan jamur yang paling banyak menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin adalah jenis toksin yang bersifat karsinogenik. Aflatoksin dapat mengakibatkan keracunan dengan gejala mual dan muntah, dan bila berlangsung lama penyakit yang timbul adalah kanker hati dan berakibat meninggal dunia dan apabila seseorang mengkonsumsi bahan pangan yang terkontaminasi aflatoksin konsentrasi rendah secara terus-menerus, maka hal itu dapat merusak hati serta menurunkan system kekebalan pada tubuh..
Berdasarkan penelitian yang dilakukan ini sudah terlihat jagung busuk dapat terkontaminasi oleh jamur Aspergillus flavus. Jagung yang terkontaminasi disebabkan karena penyimpanan jagung, suhu dan kondisi lingkungan yang kurang baik sehingga memicu terjadinya petumbuhan jamur, salah satunya jamur Aspergillus flavus jamur ini merupakam jamur yang bersifat saprofit dan dapat dijumpai dimana saja, di tanah, di udara bebas dan pada bahan-bahan makanan seperti beras, gandum, kacang-kacangan dan jagung. Sedangkan jagung segar tidak ditemukan adanya jamur Aspergillus flavus.
Jamur Aspergillus flavus ini dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki warna permulaan kuning yang akan berubah warna menjadi kuning kehijauan sedangkan koloninya berwarna hijau tua, jamur Aspergillus flavus juga merupakan kapang yang dapat menghasilkan toksin (racun) berupa aflatoksin. Aflatoksin ini merupakan senyawa toksin yang dihasilkan oleh metabolic sekunder dan termaksud golongan mikotoksin. Adapun struktur Aflatoksin yaitu AFB1 rumus molekulnya C17H12O6. Mikotoksin itu sendiri berasal dari fungi/kapang/jamur yang sangat mematikan dan dapat memicu terjadinya kanker bagi manusia.

BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian secara laboratorik dari 2 sampel jagung busuk dan jagung segar yaitu pada jagung busuk terdapat jamur Aspergillus flavus sedangkan pada jagung segar tidak ditemukan adanya  jamur Aspergillus flavus Hal ini membuktikan bahwa jamur Aspergillus flavus dapat berkembangbiak pada jagung dengan penyimpanan yang cukup lama (jagung busuk) khususnya jagung yang dijual di pasar Terong Kota Makassar.
B.     SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka penulis menyarankan :
1.      Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini tidak hanya jamur pada jagung, tetapi pada senyawa aflatoksin yang di hasilkan oleh jamur
2.      Diharapakan kepada peneliti agar dapat mengembangakn kembali penelitian ini yang tidak hanya pada jagung, tetapi pada makanan-makanan lainnya yang rentan terhadap pertumbuhan jamur
3.      Untuk masyarakat sebagai konsumen agar lebih teliti serta memperhatikan kualitas dan kebersihan jagung yang akan dikonsumsi.



                                   DAFTAR PUSTAKA                                  
Amalia N. 2012. Identifikasi  Jamur  Aspergillus  flavus  Pada  Kacang  Tanah (Arachis hypogaea  L )  Yang  Dijual  Di Pasar  Kodim. Jurnal Analis Kesehatan klinikal Sains ISSN : 2338-4921. Akademi Analis kesehatan Fajar Pekanbaru. Volume : 1 No. 1 Juni 2013 Hal. 1-10. (di akses pada tanggal 23 Mei 2016)

Anonim B. 2008. Aspergillosis (Aspergilus). http://www.cdc.gov/nczved/        dfbmd/diseaselisting/aspergillosis_gi.html klasifikasi-jamur.pdf. (diakses24 Mei 2016).
Desy V. P.,  Gede R., Sri I. 2014. Karya Tulis Ilmiah Identifikasi A. flavus Pada Biji Kacang Tanah Busuk AtauKeriput Yang Dijual. Jurnal Klinika Laboratory Juli Vol. 2 No. 1 2015. Program Studi Analis Kesehatan STIKes Wira Medika. Bali.

Dwidjoseputro. 2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Jambatan. Jakarta.

Edyansyah, E. 2013. Keberadaan Jamur Kontaminan Penyebab Mikotoksikosis Pada Selai Kacang Yang Dijual Di Pasar  Tradisional Kota Palembang. Poltekkes Palembang. Palembang   (di akses pada tanggal 03 Mei 2016 ).

Entjang, I. 2001. Mikrobiologi dan Parasitologi. Penetbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung

Gandjar, I., Sjamsuridzal, W., dan Oetari, A. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Harti, G.S.,2014. Mikrobiologi Kesehatan. Penerbit Andi offset. Yogyakarta

Hartati. A.S. 2012. Dasar dasar Mikrobilogi. Maha Medika. Surakarta

Indrawati dkk., 2006. Mikologi dasar dan terapan. 100-117. Yayasan OborIndonesia. Jakarta.

Irianto K., 2014. Bakteriologi Medis, Mikologi Medis, dan Virologi Medis. Penerbit Alfabeta. Bandung

Jurnal Pdf Unsu. 2013. Aspergilus flavus. Universitas Sumatra Utara. (diakses pada tanggal 03 Juni 2016)

 Jurnal Pdf Susy, Y.P. 1993. Aspek Kimiawi Racun Aflatoksin Dalam Bahan Pangan dan Pencegahannya. Yogyakarta (diakses pada tanggal 02 Oktober 2006)

Jurna Pdf Nur. A. 2011.  Identifikasi jamur Aspergillus flavus pada kacang tanah (Arachis hypogaea L ) yang dijual di pasar kodim. Laboratorium Akademi Analis Kesehatan Pekanbaru (diakses pada tanggal 01 Juni 2013)

Lanyasunya, T.P., L.W. Wamae, H.H. Musa, O. Olowofeso, and I.K. Lokwaleput. 2005. The risk of mycotoxins contamination of dairy feed and milk on smallholder dairy farms in Kenya. Pakistan Journal ofNutrition 4.

Miskiyah, 2003. Status Kontaminasi Aflatoksin Pada Kacang Tanah dan Produk Produk Olahannya. (http://repository.ipb.ac.id/ bitstream/handle/ prosiding seminar teknologi_inovatif_pascapanen-49.pdf, diakses tanggal 15 Mei 2016).

Mubyarto, 2012. Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian. Workshop Pemandu Lapangan 1 (PL-1) Sekolah Lapangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (SL-PPHP). Departemen Pertanian.

Nurul. H. M. 2010. Pemeriksaan Jamur Candida sp pada Air Toilet Universitas Abdurrab Pekanbaru (KTI). AAK. Pekanbaru.

Purwono, M. dan Hartono, R. 2007.Bertanam Jagung Manis. Penebar Swadaya. Bogor.

Retnowati.Y, Wirnangsi D.Uno, Syam Kumaji. 2013. Skripsipertumbuhan kapang Monascus purpureus, Aspergillus flavus dan Penicillium sp pada media beras, jagung dan kombinasi beras jagung. Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Gorontalo.

Roesmarkam, A. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah.Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sardjono. 1998. Pencemaran Pangan oleh Jamur, Potensi Bahaya dan Pencegahannya. Agritech.

Sukarminah, Een. 2008. Mikrobilogi Pangan. Jurusan Teknologi Industri Pangan Unpad.Bandung.

Suprapto. 2001. Mengenal Jagung (Zea mays L). Buletin Teknik Pertanian Vol.13 No.2.

Supriyono, G. S. 1997. Anekaolahan Kacang Tanah.Makanan beras, jagung, makanan kemasan kaleng. Trubus Agriwidya, Solo.



Suryadi, H., K. Maryati, dan Y. Andi. 2005.  Analisis Kuantitatif Aflatoksin dalam Bumbu Pecel secara KLT-Densitometri. www.ns.ui.ac.id/seminar 2005/Data/pdf (di akses pada tanggal 03 Mei 2016 ).

Subandi, H.M. 2010. Mikrobiologi, perkembangan, kajian, dan pengamatan dalam persfektif islam. Penerbit PT Remaja Rosdiakarya. Bandung

Tamher, S. 2008.  Mikrobiologi Untuk Mahasiswa Kesehatan Keperawatan.. CV Trans Info Media, Jakarta Timur

Tournas, V., M.E. Stack, P.B. Mislivec, and  H.A. Koch. 2001. Yeast, Molds, and Mycotoxins. Food & Drug Administration.Center for Safety & Applied Nutrition. Washington, D.C. U.S.

Wrather, J.A. and L.E. Sweet. 2006. Aflatoxin in Corn. Jefferson City: Delta Research Center. Missouri Agricultural Experiment Station. MU College of Agriculture, Food and Natural Resource.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar